MIKROBIOLOGI
INDUSTRI
TAPE
OLEH
:
Putu Mutia Septiyaningsih (1111205031)
TEKNOLOGI
INDUSTRI PERTANIAN
FAKULTAS
TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS
UDAYANA
2013
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya atas restu Tuhan Yang
Maha Esa, karena berkat karunia-Nya kami
mampu
menyelesaikan paper ini. Melalui kata
pengantar ini, kami
menyampaikan rasa homat dan rasa terimakasih kepada semua pihak yang telah
membantu.
Mengingat terbatasnya waktu yang
tersedia dalam menyelesaikan tulisan ini, masih banyak terdapat
kekurangan-kekurangan yang disebabkan pula oleh faktor keterbatasan dalam
jangkauan pikiran dan saya sendiri merasakan hasilnya masih jauh dari sempurna.
kami menyadari pula dalam
bentuk tulisan ini belum ada standarisasi yang sempurna baik yang ditinjau dari
susunan kata-katanya, bentuk maupun isinya.
Oleh karena itu, segala saran-saran
untuk penyempurnaan dan kritik-kritik yang bersifat membangun sangat diperlukan
dan diharapkan. Guna dapat dijadikan pedoman dan landasan dalam tahap
penyusunan dan penulisan yang selanjutnya.
Tetapi sebagai langkah permulaan, kami harap melalui tulisan ini dapat
memberikan sumbangan pemikiran yang berguna bagi kita semua.
.
Bukit
Jimbaran, 30 Desember
2012
Penulis,
DAFTAR
ISI
Halaman Judul
Kata
Pengantar
Daftar
Isi
BAB
I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2
Rumusan Masalah
1.3 Tujuan
1.4 Manfaat
BAB
II PEMBAHASAN
2.1 Tapai
2.2 Mikrobia yang Digunakan
2.3 Bahan
pembuatan tape
2.4 Alat Pembuatan tape
2.5 Proses Pembuatan tape
2.6 Perubahan Biokimia yang Terjadi
BAB
III PENUTUPAN
3.1 Kesimpulan
Daftar
Pustaka
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
LATAR BELAKANG
Fermentasi adalah proses produksi energi dalam sel dalam
keadaan anaerobik atau membutuhkan sedikit oksigen. Fermentasi juga merupakan
kegiatan mikroba pada bahan pangan sehingga dihasilkan produk yang dikehendaki
melalui respireasi anaerob. Gula adalah bahan yang umum dalam fermentasi.
Beberapa contoh hasil fermentasi adalah etanol, asam laktat, dan hidrogen. Akan
tetapi beberapa komponen lain dapat juga dihasilkan dari fermentasi seperti
asam butirat dan aseton. Ragi dikenal sebagai bahan yang umum digunakan dalam
fermentasi untuk menghasilkan etanol dalam bir, anggur dan minuman beralkohol
lainnya.
Mikroba yang terlibat dalam kegiatan fermentasi
antara lain bakteri, khamir, dan kapang. Pada proses fermentasi, mikroorganisme
menghasilkan produk dengan enzim yang mengubah suatu zat menjadi zat lain. Pada
kondisi anaerob (sedikit oksigen), fermentasi dapat mengubah karbohidrat
menjadi glukosa, dan lain sebagainya.
Fermentasi dibantu dengan bakteri Sacharomyces
cerivisiae yang mengubah karbohidrat
menjadi gula sederhana dan diubah lagi menjadi karbondioksida dan alkohol. Pengolahan
pangan dengan cara fermentasi merupakan jenis pengolahan pangan yang cukup tua.
Secara tradisional banyak dilakukan di tingkat rumah tangga. Indonesia sangat
kaya akan produk-produk pangan hasil proses fermentasi. Salah satu contohnya
tape.
1.2
RUMUSAN
MASALAH
1.
Apa
yang dimaksud dengan tape?
2.
Mikrobia
apa saja yang digunakan pada pembuatan tape?
3.
Apa
saja bahan
dan alat dalam pembuatan tape?
4.
Bagaimana
proses pembuatan dari tape?
5.
Perubahan
biokimia apa yang terjadi pada pembuatan tape?
1.3
TUJUAN
PENULISAN
1.
Untuk mengetahui apa itu tape.
2.
Untuk
mengetahui mikrobia apa yang digunakan pada pembuatan tape.
3.
Untuk
mengetahui bahan-bahan dan alat yang
digunakan pada pembuatan tape.
4.
Untuk
mengetahui proses pembuatan tape.
5.
Untuk
mengetahui perubahan biokimia yang terjadi pada pembuatan tape.
1.4
MANFAAT
PENULISAN
Dapat memberikan pengetahuan mengenai tape, bahan dan alat yang digunakan
untuk membuat tape,
mikrobia yang digunakan, proses pembuatan tape, serta perubahan biokimia yang
terjadi pada pembuatan tape.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 TAPE
Tape merupakan makanan tradisional yang banyak dikonsumsi
oleh masyarakat Indonesia, terutama orang sunda. Tape ini dibuat dengan cara
difermentasikan selama 2-3 hari, dengan bantuan bakteri saccharomyces
cerivisiae, Mucor chlamidosporus dan Endomycopsis fibuligera.
Fermentasi yang terjadi yaitu perubahan pati menjadi gula,
dan oleh ragi gula dirubah menjadi alcohol, sehingga ketan menjadi lunak,
berair, manis, dan berbau alcohol. Proses fermentasi tersebut adalah:
2(C6H10O5)n + nH2O —-> n C12H22O11
Amilum/patiamilase matosa
C12H22O11 + H2O —-> 2C6H12O6
Maltosa maltase glukosa
C6H12O6 —-> 2C2H5OH + CO2
glukosa alcohol
Tape hasil fermentasi dari S.
cerevisiae umumnya berbentuk semi-cair, berasa manis keasaman, mengandung
alkohol, dan memiliki tekstur lengket. Untuk membuat tapai ketan berwarna
merah, digunakan angkak,
pigmen
yang dihasilkan oleh Monascus purpureus.
Sedangkan tapai ketan warna hijau dibuat menggunakan ekstrak daun pandan.
Pengaruh konsumsi tapai bagi
kesehatan
Keunggulan tapai
Fermentasi tapai dapat meningkatkan kandungan Vitamin B1 (tiamina) hingga
tiga kali lipat. Vitamin ini diperlukan oleh sistem saraf, sel otot, dan sistem
pencernaan agar dapat berfungsi dengan baik. Karena mengandung berbagai
macam bakteri
“baik” yang aman dikonsumsi, tapai dapat digolongkan sebagai sumber probiotik
bagi tubuh. Cairan tapai dan tapai ketan diketahui mengandung bakteri asam laktat sebanyak ± satu juta per
mililiter atau gramnya. Produk fermentasi ini diyakini dapat memberikan efek
menyehatkan tubuh, terutama sistem pencernaan, karena meningkatkan jumlah
bakteri dalam tubuh dan mengurangi jumlah bakteri jahat.
Kelebihan lain dari tapai adalah kemampuannya tapai mengikat dan
mengeluarkan aflatoksin dari tubuh. Aflaktosin merupakan zat toksik
atau racun yang dihasilkan oleh kapang, terutama Aspergillus flavus.
Toksik ini banyak kita jumpai dalam kebutuhan pangan sehari-hari, seperti kecap. Konsumsi tapai
dalam batas normal diharapkan dapat mereduksi aflatoksin
tersebut.
Di beberapa negara
tropis yang
mengonsumsi singkong sebagai karbohidrat utama, penduduknya rentan menderita
anemia. Hal ini dikarenakan singkong mengandung sianida yang
bersifat toksik dalam tubuh manusia.. Konsumsi tapai dapat mencegah terjadinya
anemia karena mikroorganisme yang berperan dalam fermentasinya mampu
menghasilkan vitamin B12
Kelemahan tapai
Konsumsi tapai
yang berlebihan dapat menimbulkan infeksi pada darah dan gangguan sistem
pencernaan. Selain itu, beberapa jenis bakteri yang digunakan dalam
pembuatan tapai berpotensi menyebabkan penyakit pada orang-orang dengan sistem imun
yang terlalu lemah seperti anak-anak balita, kaum lanjut usia, atau penderita HIV. Untuk mengurangi
dampak negatif tersebut, konsumsi tapai perlu dilakukan secara terkendali dan
pembuatannya serta penyimpanannya pun dilakukan dengan higienis.
Sebagian besar tapai dibuat dari fermentasi beras ketan (Oryza
sativa) atau singkong (Manihot esculenta). Masyarakat Jawa Barat
lebih mengenal tapai singkong dengan sebutan peuyeum, sedangkan
masyarakat Jawa
Timur lebih sering menyebutnya tape puhung. Tapai ketan dikenal di
kawasan Asia, terutama Asia Tenggara, dengan nama lokal yang
berbeda–beda : tapai pulut (Malaysia), basi
binubran (Filipina),
chao (Kamboja),
lao-chao (Tionghoa) atau chiu
niang (Cina),
dan khao-mak (Thailand).
2.2
MIKROORGANISME YANG DIGUNAKAN
Tapai atau tape adalah kudapan
yang dihasilkan dari proses fermentasi bahan pangan berkarbohidrat
sebagai substrat oleh ragi.
Di Indonesia dan negara-negara tetangganya, substrat ini biasanya umbi singkong
dan beras
ketan. Ragi untuk fermentasi tapai merupakan
campuran beberapa mikroorganisme, terutama fungi (kapang dan
jamur), seperti Saccharomyces cerevisiae, Rhizopus oryzae,
Endomycopsis
burtonii, Mucor
sp., Candida utilis, Saccharomycopsis
fibuligera, dan Pediococcus
sp., namun tidak tertutup kemungkinan jenis lain juga terlibat. Tapai hasil
fermentasi dengan ragi yang didominasi S. cerevisiae umumnya berbentuk
semi-cair, lunak, berasa manis keasaman, mengandung alkohol, dan memiliki
tekstur lengket.
2.3 BAHAN YANG
DIGUNAKAN
Bahan yang
digunakan dalam fermentasi tapai ini adalah Beras ketan, ragi, dan daun pisang.
2.4
ALAT YANG DIGUNAKAN
Alat yang
digunakan dalam fermentasi tapai ini adalah piring penampi, panci pengukus,
kompor, tampah.
2.5 PROSES FERMENTASI TAPE
Digram alir
pembuatan tape ketan
Dalam pembuatan
tapai ketan, beras
ketan dimasak dan dikukus terlebih dahulu sebelum dibubuhi ragi].
Campuran tersebut dilindungi dari udara terbuka dengan membungkusnya oleh daun
dan diinkubasi
pada suhu 25-30 °C selama 2-4 hari. Daun yang digunakan bermacam-macam,
tergantung dari sumber daya yang tersedia, tetapi biasanya digunakan daun yang
lebar dan permukaannya licin. Tapai ketan yang siap dihidangkan biasanya
mengandung alkohol
dan teksturnya lebih lembut. Daun yang digunakan biasanya adalah daun pisang,
namun di beberapa tempat daun lain juga digunakan, misalnya daun jambu (Sizygium)
atau karet para (Hevea
brasiliensis).
Untuk membuat tapai singkong, kulit umbi singkong harus dibuang
terlebih dahulu. Umbi yang telah dikupas lalu dicuci, dikukus, dan kemudian
ditempatkan pada keranjang bambu yang dilapisi daun pisang. Ragi
disebar pada singkong dan lapisan daun pisang yang
digunakan sebagai alas dan penutup. Keranjang tersebut kemudian diperam pada
suhu 28 – 30 °C selama 2 – 3 hari.
Selain rasanya yang manis dan aroma yang memikat, tapai juga dibuat
dengan beberapa warna berbeda. Warna tersebut tidak berasal dari pewarna buatan
yang berbahaya, melainkan berasal dari pewarna alami. Untuk membuat tapai ketan
berwarna merah digunakan angkak, pigmen yang dihasilkan oleh Monascus purpureus,
sedangkan tapai ketan warna hijau dibuat menggunakan ekstrak daun pandan.
Pembuatan tapai memerlukan kecermatan dan kebersihan yang tinggi agar
singkong atau ketan dapat menjadi lunak karena proses fermentasi yang
berlangsung dengan baik. Ragi adalah bibit jamur yang digunakan
untuk membuat tapai. Agar pembuatan tape berhasil dengan baik alat-alat dan
bahan-bahan yang digunakan harus bersih, terutama dari lemak atau minyak. Alat-alat
yang berminyak jika dipakai untuk mengolah bahan tapai bisa menyebabkan
kegagalan fermentasi.
Air yang digunakan
juga harus bersih,
menggunakan air hujan bisa mengakibatkan tapai tidak berhasil dibuat.
2.6 PERUBAHAN
BIOKOMIA YANG TERJADI
Kapang A. Rouxii dapat
menghidrolisis pati menjadi gula. Semua gula yang ada adalah gula reduksi. A.
rouxii juga menghasilkan alkohol sampai 0,92% setelah 45 jam fermentasi.
Penggunaan kultur campuran A. rouxii dan S. fibuliger
menghasilkan tape dengan kadar alkohol lebih tinggi tetapi kadar gulanya lebih
rendah dan tidak memiliki aroma tape yang kuat. Pada bagian lain campuran tiga
organisme yaitu A. rouxii, S. fibuliger dan H. anomala
menghasilkan aroma yang diharapkan.
Perubahan biokimia yang penting pada
fermentasi tape adalah hidrolisis pati menajdi glukosa dan maltosa yang akan
memberikan rasa manis serta perubahan gula menjadi alcohol dan asam organic.
Pada proses pembuatan tape, jamur
ragi akan memakan glukosa yang ada di dalam beras ketan sebagai makanan untuk
pertumbuhan nya, sehingga tape ketan akan menjadi lunak, jamur tersebut akan
mengubah glukosa menjadi alcohol. Saat pemberian tape, ragi (Saccharomyces
cereviceae) mengeluarkan enzim yang dapat memecah karbohidrat pada beras ketan
menjadi gula yang lebih sederhana. Oleh karena itu, tape terasa manis apabila
sudah matang walaupun tanpa diberi gula sebelumnya.
Perubahan kadar alkohol selama
penyimpanan dapat terjadi setelah dua hari dari 3% menjadi 5,2%. Namun
demikian, jika tape disimpan pada suhu rendah (70C) fermentasi masih
tetap berlangsung tetapi lebih lambat dan secara sensoris masih baik sampai dua
minggu. Kombinasi A. rouxii dengan E. burtonii mampu mengurangi
padatan total tape ketan sampai 50% dalam waktu 192 jam pada suhu 300C
dan meningkatkan protein sampai 16,5 %, selain itu juga dihasilkan isobutanol,
amil alkohol, dan isoamilalkohol.
Jumlah asam amino selama fermentasi
mengalami penurunan, asam glutamat sebanyak 17,5 %, lisin 11 %, dan tirosin 9,8
%, sementara tiamin naik dari 0,04 mg/100 g menjadi 0,1 mg/100 g jika digunakan
A. rouxii dan 0,12 mg/100g jika digabung dengan E. burtonii.
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
1.
Tape merupakan makanan tradisional yang banyak dikonsumsi
oleh masyarakat Indonesia, terutama orang sunda.
3. Bahan
yang digunakan dalam fermentasi tapai ini adalah Beras ketan, ragi, dan daun pisang. Alat
yang digunakan dalam fermentasi tapai ini adalah piring penampi, panci pengukus,
kompor, tampah.
4. Dalam
pembuatan tapai ketan, beras ketan dimasak dan dikukus terlebih dahulu sebelum
dibubuhi ragi].
Campuran tersebut dilindungi dari udara terbuka dengan membungkusnya oleh daun
dan diinkubasi
pada suhu 25-30 °C selama 2-4 hari.
5. Perubahan
biokimia yang penting pada fermentasi tape adalah hidrolisis pati menajdi
glukosa dan maltosa yang akan memberikan rasa manis serta perubahan gula
menjadi alcohol dan asam organic.
DAFTAR PUSTAKA
Comments
Post a Comment
terima kasih atas kritik dan saran menbangunnya