Peringatan
Hari Bumi tahun ini mengambil tema "Water for Life" atau "Air
sebagai Sumber Kehidupan". Tema ini di samping sangat tepat, juga mendesak
untuk diangkat mengingat kelestarian sumber daya air kita yang semakin
terancam.
Krisis
air yang dewasa ini menjadi persoalan di banyak wilayah Tanah Air, jika
ditelusuri lebih mendalam, ternyata jauh lebih berat dan rumit untuk
ditanggulangi. Ketika faktor kekeringan diyakini menjadi faktor utama penyebab
krisis air, ternyata masih ada faktor lainnya yang tidak kurang
mengkhawatirkan.
Di
luar persoalan pencemaran lingkungan akibat limbah cair yang mengandung logam
berat dan senyawa kimia lain yang bersifat karsinogenik, persoalan pencemaran
lainnya adalah tingginya kasus eutrofikasi yang terjadi di banyak sumber daya
air di Indonesia, dan bahkan dunia dewasa ini. Faktor pencemaran akibat
aktivitas modern, baik dari praktik pertanian, peternakan, permukiman, maupun
tingginya populasi manusia, menjadi sumber semakin beratnya persoalan krisis
air ini.
Eutrofikasi
merupakan problem lingkungan hidup yang diakibatkan oleh limbah fosfat (PO3-),
khususnya dalam ekosistem air tawar. Definisi dasarnya adalah pencemaran air
yang disebabkan oleh munculnya nutrient yang berlebihan ke dalam ekosistem air.
Air dikatakan eutrofik jika konsentrasi total phosphorus (TP) dalam air berada
dalam rentang 35-100 µg/L. Sejatinya, eutrofikasi merupakan sebuah proses
alamiah di mana danau mengalami penuaan secara bertahap dan menjadi lebih
produktif bagi tumbuhnya biomassa. Diperlukan proses ribuan tahun untuk sampai
pada kondisi eutrofik. Proses alamiah ini, oleh manusia dengan segala aktivitas
modernnya, secara tidak disadari dipercepat menjadi dalam hitungan beberapa
dekade atau bahkan beberapa tahun saja. Maka tidaklah mengherankan jika
eutrofikasi menjadi masalah di hampir ribuan danau di muka Bumi, sebagaimana
dikenal lewat fenomena algal bloom.
Kondisi
eutrofik sangat memungkinkan alga, tumbuhan air berukuran mikro, untuk tumbuh
berkembang biak dengan pesat (blooming) akibat ketersediaan fosfat yang
berlebihan serta kondisi lain yang memadai. Hal ini bisa dikenali dengan warna
air yang menjadi kehijauan, berbau tak sedap, dan kekeruhannya yang menjadi
semakin meningkat. Banyaknya eceng gondok yang bertebaran di rawa-rawa dan
danau-danau juga disebabkan fosfat yang sangat berlebihan ini. Akibatnya,
kualitas air di banyak ekosistem air menjadi sangat menurun. Rendahnya
konsentrasi oksigen terlarut, bahkan sampai batas nol, menyebabkan makhluk
hidup air seperti ikan dan spesies lainnya tidak bisa tumbuh dengan baik
sehingga akhirnya mati. Hilangnya ikan dan hewan lainnya dalam mata rantai
ekosistem air menyebabkan terganggunya keseimbangan ekosistem air. Permasalahan
lainnya, cyanobacteria (blue-green algae) diketahui mengandung toksin sehingga
membawa risiko kesehatan bagi manusia dan hewan. Algal bloom juga menyebabkan
hilangnya nilai konservasi, estetika, rekreasional, dan pariwisata sehingga
dibutuhkan biaya sosial dan ekonomi yang tidak sedikit untuk mengatasinya.
PROBLEM
eutrofikasi baru disadari pada dekade awal abad ke-20 saat alga banyak tumbuh
di danau-danau dan ekosistem air lainnya. Problem ini disinyalir akibat
langsung dari aliran limbah domestik. Hingga saat itu belum diketahui secara
pasti unsur kimiawi yang sesungguhnya berperan besar dalam munculnya
eutrofikasi ini.
Melalui
penelitian jangka panjang pada berbagai danau kecil dan besar, para peneliti
akhirnya bisa menyimpulkan bahwa fosfor merupakan elemen kunci di antara nutrient
utama tanaman (karbon (C), nitrogen (N), dan fosfor (P)) di dalam proses
eutrofikasi.
Sebuah
percobaan berskala besar yang pernah dilakukan pada tahun 1968 terhadap Lake
Erie (ELA Lake 226) di Amerika Serikat membuktikan bahwa bagian danau yang hanya
ditambahkan karbon dan nitrogen tidak mengalami fenomena algal bloom selama
delapan tahun pengamatan. Sebaliknya, bagian danau lainnya yang ditambahkan
fosfor (dalam bentuk senyawa fosfat)-di samping karbon dan nitrogen-terbukti
nyata mengalami algal bloom.
Menyadari
bahwa senyawa fosfatlah yang menjadi penyebab terjadinya eutrofikasi, maka
perhatian para saintis dan kelompok masyarakat pencinta lingkungan hidup
semakin meningkat terhadap permasalahan ini. Ada kelompok yang condong memilih
cara-cara penanggulangan melalui pengolahan limbah cair yang mengandung fosfat,
seperti detergen dan limbah manusia, ada juga kelompok yang secara tegas
melarang keberadaan fosfor dalam detergen. Program miliaran dollar pernah
dicanangkan lewat institusi St Lawrence Great Lakes Basin di AS untuk
mengontrol keberadaan fosfat dalam ekosistem air. Sebagai implementasinya,
lahirlah peraturan perundangan yang mengatur pembatasan penggunaan fosfat,
pembuangan limbah fosfat dari rumah tangga dan permukiman. Upaya untuk menyubstitusi
pemakaian fosfat dalam detergen juga menjadi bagian dari program tersebut.
LEBIH
jauh, dari mana saja fosfat yang masuk ke permukaan air ini sebenarnya berasal?
Menurut
Morse et al 1993 (The Economic and Environment Impact of Phosphorus Removal
from Wastewater in the European Community), 10 persen berasal dari proses
alamiah di lingkungan air itu sendiri (background source), 7 persen dari
industri, 11 persen dari detergen, 17 persen dari pupuk pertanian, 23 persen
dari limbah manusia, dan yang terbesar, 32 persen, dari limbah peternakan.
Paparan statistik di atas (meskipun tidak persis mewakili data di Tanah Air)
menunjukkan bagaimana berbagai aktivitas masyarakat di era modern dan semakin
besarnya jumlah populasi manusia menjadi penyumbang yang sangat besar bagi
lepasnya fosfor ke lingkungan air.
Mengacu
pada buku Phosphorus Chemistry in Everyday Living, manusia memang berperan
besar sebagai penyumbang limbah fosfat. Secara fisiologis, jumlah fosfat yang
dikeluarkan manusia sebanding dengan jumlah yang dikonsumsinya. Tahun 1987 saja
rata-rata orang di AS mengonsumsi dan mengekskresi sejumlah 1,4 lb (pounds)
fosfat per tahun. Bersandar pada data ini, dengan sekitar 290 juta jiwa
populasi penduduk AS saat ini, maka sekitar 406 juta pounds fosfor dikeluarkan
manusia AS setiap tahunnya.
Lantas,
berapa jumlah fosfor yang dilepaskan oleh penduduk bumi sekarang yang sudah
mencapai sekitar 6,3 miliar jiwa? Jika dihitung, akan menghasilkan sebuah angka
yang sangat fantastis! Ini belum termasuk fosfat yang terkandung dalam detergen
yang banyak digunakan masyarakat sehari-hari dan sumber lainnya seperti disebut
di atas.
Tanpa
pengelolaan limbah domestik yang baik, seperti yang terjadi di negara-negara
dunia ketiga, tentu bisa dibayangkan apa dampaknya terhadap lingkungan hidup,
khususnya ekosistem air.
Berapa
sebenarnya jumlah fosfor (P) yang diperlukan oleh blue-green algae (makhluk
hidup air penyebab algal bloom) untuk tumbuh? Ternyata hanya dengan konsentrasi
10 part per billion (ppb/sepersatu miliar bagian) fosfor saja blue-green algae
sudah bisa tumbuh. Tidak heran kalau algal bloom terjadi di banyak ekosistem
air. Dalam tempo 24 jam saja populasi alga bisa berkembang dua kali lipat
dengan jumlah ketersediaan fosfor yang berlebihan akibat limbah fosfat di atas.
Tentu
saja limbah fosfat yang lepas ke lingkungan air akan mengalami pengenceran di
sungai-sungai, di samping sebelumnya telah melewati pula tahap pengolahan
limbah domestik. Yang disebut terakhir secara ketat hanya berlaku di negara
maju seperti AS dan Eropa. Berdasarkan ini pun, ternyata masih akan tersisa
sejumlah 12-31 ppb fosfor yang notabene lebih dari cukup bagi tumbuhnya
blue-green algae. Bisa diperkirakan (sebelum akhirnya dibuktikan) kandungan
fosfat di banyak aliran sungai dan danau di Indonesia, khususnya di kota-kota
besar, akan jauh lebih tinggi dari angka yang disebutkan di atas. Dari sini
kita bisa mengetahui betapa seriusnya persoalan yang diakibatkan oleh limbah
fosfat ini
DEWASA
ini persoalan eutrofikasi tidak hanya dikaji secara lokal dan temporal, tetapi
juga menjadi persoalan global yang rumit untuk diatasi sehingga menuntut
perhatian serius banyak pihak secara terus-menerus. Eutrofikasi merupakan
contoh kasus dari problem yang menuntut pendekatan lintas disiplin ilmu dan
lintas sektoral.
Ada
beberapa faktor yang menyebabkan penanggulangan terhadap problem ini sulit
membuahkan hasil yang memuaskan. Faktor-faktor tersebut adalah aktivitas
peternakan yang intensif dan hemat lahan, konsumsi bahan kimiawi yang
mengandung unsur fosfat yang berlebihan, pertumbuhan penduduk Bumi yang semakin
cepat, urbanisasi yang semakin tinggi, dan lepasnya senyawa kimia fosfat yang
telah lama terakumulasi dalam sedimen menuju badan air.
Lalu
apa solusi yang mungkin diambil? Menurut Forsberg (Which Policies Can Stop
Large Scale Eutrophication? Water Science and Technology, Vol 37, Issue 3,1998,
p 193-200), yang utama adalah dibutuhkan kebijakan yang kuat untuk mengontrol
pertumbuhan penduduk (birth control). Karena apa? Karena sejalan dengan
populasi warga Bumi yang terus meningkat, berarti akan meningkat pula
kontribusi bagi lepasnya fosfat ke lingkungan air dari sumber-sumber yang
disebutkan di atas. Pemerintah juga harus mendorong para pengusaha agar produk
detergen tidak lagi mengandung fosfat. Begitu pula produk makanan dan minuman
diusahakan juga tidak mengandung bahan aditif fosfat. Di samping itu, dituntut
pula peran pemerintah di sektor pertanian agar penggunaan pupuk fosfat tidak
berlebihan, serta perannya dalam pengelolaan sektor peternakan yang bisa mencegah
lebih banyaknya lagi fosfat lepas ke lingkungan air. Bagi masyarakat dianjurkan
untuk tidak berlebihan mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung aditif
fosfat.
Di
negara-negara maju masyarakat yang sudah memiliki kesadaran lingkungan (green
consumers) hanya membeli produk kebutuhan rumah sehari-hari yang mencantumkan
label phosphate free atau environmentally friendly.
Negara-negara
maju telah menjadikan problem eutrofikasi sebagai agenda lingkungan hidup yang
harus ditangani secara serius.
Sebagai
contoh, Australia sudah mempunyai program yang disebut The National
Eutrophication Management Program, yang didirikan untuk mengoordinasi,
mendanai, dan menyosialisasi aktivitas riset mengenai masalah ini. AS memiliki
organisasi seperti North American Lake Management Society yang menaruh
perhatian besar terhadap kelestarian danau melalui aktivitas sains, manajemen,
edukasi, dan advokasi.
Selain
itu, mereka masih mempunyai American Society of Limnology and Oceanography yang
menaruh bidang kajian pada aquatic sciences dengan tujuan menerapkan hasil
pengetahuan di bidang ini untuk mengidentifikasi dan mencari solusi
permasalahan yang diakibatkan oleh hubungan antara manusia dengan lingkungan.
Negara-negara
di kawasan Eropa juga memiliki komite khusus dengan nama Scientific Committee
on Phosphates in Europe yang memberlakukan The Urban Waste Water Treatment
Directive 91/271 yang berfungsi untuk menangani problem fosfat dari limbah cair
dan cara penanggulangannya. Mereka juga memiliki jurnal ilmiah European Water
Pollution Control, di samping Environmental Protection Agency (EPA) yang
memberlakukan peraturan dan pengawasan ketat terhadap pencemaran lingkungan.
Bagaimana
dengan di Indonesia? Tanpa mengecilkan peran badan seperti Bapedal, organisasi
profesi yang berafiliasi pada lingkungan hidup, serta organisasi nonpemerintah
lainnya yang memiliki perhatian terhadap aspek lingkungan hidup, perhatian
terhadap problem eutrofikasi masih perlu ditingkatkan.
TIDAKLAH
berlebihan jika dikatakan bahwa eutrofikasi yang terjadi di banyak lingkungan
air di muka Bumi merupakan problem global yang harus dihadapi bersama.
Pemecahan
problem ini di Indonesia sangat menuntut peran serta masyarakat, saintis,
praktisi, dan pemerintah. Menjadi tugas mendesak bagi kita sekarang untuk
menyelamatkan sumber daya air ini dari bencana eutrofikasi, serta memelihara
dan mengolahnya untuk kebutuhan generasi sekarang dan yang akan datang.
Menjadi
harapan besar, tentunya, jika problem ini bisa segera diatasi dengan segenap
kesadaran semua pihak. Jangan sampai kita terus menyaksikan sebuah ironi
berkepanjangan, yang seolah kita ingin "mati bunuh diri" dengan terus
mencemari sumber daya yang menjadi nyawa kehidupan ini. Kalau ternyata hal ini
berlangsung terus, sungguh betapa nestapanya lingkungan kita dan sengsaranya
manusia yang sangat bergantung padanya.
Comments
Post a Comment
terima kasih atas kritik dan saran menbangunnya