BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bahan pangan utamanya tersusun oleh
vitamin, mineral, karbohidrat, protein lemak, dan turnunannya (deviratnya),
serta air. Komponen lainnya, yaitu kelompok senyawa anorganik seperti mineral
dan kelompok senyawa organik, seperti enzim, zat pengemulsi, asam-asam,
oksidan, antioksidan, pigmen, dan flavour. Komponen tersbut menyusun stuktur,
tekstur, citarasa, warna dan nilai gizi bahan pangan.
Selain karbohidrat, lemak juga merupakan
sumber energi bagi tubuh manusia, dari satu gram lemak dapat menghasilkan 9
kkal energi, lebih besar daripada karbohidrat dan protein yang hanya mempunyai
4 kkal. Kandungan lemak dalam setiap bahan berbeda-beda. Dalam industri pangan
seringkali ditambahkan lemak untuk suatu tujuan tertentu. Fungsi lemak dalam
pengolahan bahan pangan adalah sebagai media penghantar panas, contohnya :
minyak goreng, mentega putih, lemak gajih, mentega serta margarin, hal ini
dimaksudkan untuk menambahkan kalori, memperbaiki tekstur dan citarasa bahan
pangan.
Lemak yang terkandung dalam bahan hasil
pertanian dapat diekstrak dengan pelarut organik (non polar) seperti n-heksana
dan petroleum eter dengan menggunakan alat ekstraksi soxhlet.
1.2 Manfaat
-
Mahasiswa dapat mengetahui metode
penentuan kadar lemak pada bahan hasil pertanian.
-
Mahasiswa dapat melakukan analisis kadar
lemak yang terdapat dalam bahan hasil pertanian.
1.3 Tujuan
-
Praktikum penetapan lemak dilakukan
dengan tujuan agar praktikan dapat mengetahui kadar lemak yang terkandung dalam
suatu bahan pangan. Metode yang digunakan tergolong dalam metode ekstraksi
kering yaitu metode Soxhlet
1.4 Lokasi dan Waktu Praktikum
Praktikum ini dilakukan
di Laboratorium FTP Kampus Unud Sudirman pada hari Sabtu, 1 Juni 2013 pukul
09.00-15.30 WITA
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1
Lemak
Lemak pada sekelompok besar
molekul-molekul alam yang terdiri atas unsur-unsur karbon, hidrogen, dan
oksigen meliputi asam lemak, malam, sterol, vitamin-vitamin yang larut di dalam
lemak (contohnya A, D, E, dan K), monogliserida, digliserida, fosfolipid,
glikolipid, terpenoid (termasuk di dalamnya getah dan steroid) dan lain-lain.
Lemak secara khusus menjadi sebutan bagi
minyak hewani pada suhu ruang, lepas dari wujudnya yang padat maupun cair, yang
terdapat pada jaringan tubuh yang disebut adiposa.
Pada jaringan adiposa, sel lemak
mengeluarkan hormon leptin dan resistin yang berperan dalam sistem kekebalan,
hormon sitokina yang berperan dalam komunikasi antar sel. Hormon sitokina yang
dihasilkan oleh jaringan adiposa secara khusus disebut hormon adipokina, antara
lain kemerin, interleukin-6, plasminogen activator inhibitor-1, retinol binding
protein 4 (RBP4), tumor necrosis factor-alpha (TNFα), visfatin, dan hormon
metabolik seperti adiponektin dan hormon adipokinetik (Akh).
a.
Sifat dan ciri-ciri
Karena struktur molekulnya yang kaya akan
rantai unsur karbon (-CH2-CH2-CH2-) maka lemak mempunyai sifat hydrophob. Ini
menjadi alasan yang menjelaskan sulitnya lemak untuk larut di dalam air. Lemak
dapat larut hanya di larutan yang apolar atau organik seperti: eter,
Chloroform, atau benzol.
b.
Fungsi
Secara umum dapat dikatakan bahwa lemak
memenuhi fungsi dasar bagi manusia, yaitu:
1. Menjadi
cadangan energi dalam bentuk sel lemak. 1 gram lemak menghasilkan 39.06 kjoule
atau 9,3 kcal.
2. Lemak
mempunyai fungsi selular dan komponen struktural pada membran sel yang
berkaitan dengan karbohidrat dan protein demi menjalankan aliran air, ion dan
molekul lain, keluar dan masuk ke dalam sel.
3. Menopang
fungsi senyawa organik sebagai penghantar sinyal, seperti pada prostaglandin
dan steroid hormon dan kelenjar empedu.
4. Menjadi
suspensi bagi vitamin A, D, E dan K yang berguna untuk proses biologis
5. Berfungsi
sebagai penahan goncangan demi melindungi organ vital dan melindungi tubuh dari
suhu luar yang kurang bersahabat.
Lemak juga merupakan sarana sirkulasi
energi di dalam tubuh dan komponen utama yang membentuk membran semua jenis
sel.
Selain itu ada juga fungsi lain dari
lemak yaitu sebagai pelarut vitamin-vitamin yang "larut di dalam
lemak" (A, D, E, dan K1) – yang merupakan lipid berbasis isoprena – gizi
esensial yang tersimpan di dalam jaringan lemak dan hati, dengan rentang fungsi
yang berbeda-beda. Asil-karnitina terlibat di dalam pengangkutan dan
metabolisme asam lemak di dalam dan di luar mitokondria, di mana mereka
mengalami oksidasi beta. Poliprenol dan turunan terfosforilasi juga memainkan
peran pengangkutan yang penting, di dalam kasus ini pengangkutan oligosakarida
melalui membran. Fungsi gula fosfat poliprenol dan gula difosfat poliprenol di
dalam reaksi glikosilasi ekstra-sitoplasmik, di dalam biosintesis polisakarida
ekstraselular (misalnya, polimerisasi peptidoglikan di dalam bakteri), dan di
dalam protein eukariotik N-glikosilasi. Kardiolipin adalah sub-kelas
gliserofosfolipid yang mengandung empat rantai asil dan tiga gugus gliserol
yang tersedia melimpah khususnya pada membran mitokondria bagian dalam. Mereka
diyakini mengaktivasi enzim-enzim yang terlibat dengan fosforilasi oksidatif.
Dalam metabolisme lemak yang menjadi
makanan bagi manusia dan hewan lain adalah trigliserida, sterol, dan fosfolipid
membran yang ada pada hewan dan tumbuhan. Proses metabolisme lipid menyintesis
dan mengurangi cadangan lipid dan menghasilkan karakteristik lipid fungsional
dan struktural pada jaringan individu.
2.2
Kemiri
Kemiri adalah bahan makanan yang biasa
dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia.
Kemiri mengandung energi sebesar 636 kilokalori, protein 19 gram,
karbohidrat 8 gram, lemak 63 gram, kalsium 80 miligram, fosfor 200 miligram,
dan zat besi 2 miligram. Selain itu di
dalam Kemiri juga terkandung vitamin A sebanyak 0 IU, vitamin B1 0,06 miligram
dan vitamin C 0 miligram. Hasil tersebut
didapat dari melakukan penelitian terhadap 100 gram Kemiri, dengan jumlah yang
dapat dimakan sebanyak 100 %.
Kemiri (Aleurites moluccana), adalah
tumbuhan yang bijinya dimanfaatkan sebagai sumber minyak dan rempah-rempah.
Tumbuhan ini masih sekerabat dengan singkong dan termasuk dalam suku
Euphorbiaceae. Dalam perdagangan antarnegara dikenal sebagai candleberry,
Indian walnut, serta candlenut. Pohonnya disebut sebagai varnish tree atau
kukui nut tree. Minyak yang diekstrak dari bijinya berguna dalam industri untuk
digunakan sebagai bahan campuran cat.
Kemiri terutama ditanam untuk bijinya;
yang setelah diolah sering digunakan dalam masakan Indonesia dan masakan
Malaysia. Di Pulau Jawa, kemiri juga dijadikan sebagai saus kental yang dimakan
dengan sayuran dan nasi. Kemiri memiliki kesamaan dalam rasa dan tekstur dengan
macadamia yang juga memiliki kandungan minyak yang hampir sama. Kemiri juga
dibakar dan dicampur dengan pasta dan garam untuk membuat bumbu masak khas
Hawaii yang disebut inamona. Inamona adalah bumbu masak utama untuk membuat
poke tradisional Hawaii.
Inti biji kemiri mengandung 60–66%
minyak. Di Hawaii, pada masa kuno, kemiri (di sini disebut kukui) dibakar untuk
menghasilkan cahaya. Kemiri disusun berbaris memanjang pada sehelai daun palem,
dinyalakan salah satu ujungnya, dan akan terbakar satu demi satu setiap 15
menit atau lebih. Ini juga berguna sebagai alat pengukur waktu. Misalnya,
seseorang bisa meminta orang lain untuk kembali ke rumah sebelum kemiri kedua
habis terbakar. Di Tonga, sampai sekarang, kemiri yang sudah matang (dinamai
tuitui) dijadikan pasta (tukilamulamu), dan digunakan sebagai sabun dan
shampoo.
Penanaman kemiri modern kebanyakan hanya
untuk memperoleh minyaknya. Dalam setiap penanaman, masing-masing pohon akan
menghasilkan sekitar 30–80 kg kacang kemiri, dan sekitar 15 sampai 20% dari
berat tersebut merupakan minyak yang didapat. Kebanyakan minyak yang dihasilkan
digunakan secara lokal, tidak diperdagangkan secara internasional.
Minyak kemiri terutama mengandung asam oleostearat. Minyak yang lekas
mengering ini biasa digunakan untuk mengawetkan kayu, sebagai pernis atau cat,
melapis kertas agar anti-air, bahan sabun, bahan campuran isolasi, pengganti
karet, dan lain-lain. Minyak kemiri ini berkualitas lebih rendah daripada tung
oil, minyak serupa yang dihasilkan oleh Vernicia fordii (sin. Aleurites fordii)
dari Cina.
Kemiri
merupkan salah satu bahan rempah yang cukup populer di Indonesia. Selain
sebagai bahan rempah, kemiri juga dimanfaatkan untuk dibuat menjadi minyak.
Kandungan kimia yang ada pada kemiri seperti gliserida, asam linoleat,
palmitat, stearat, miristat, asam minyak, protein, vitamin B1, dan zat lemak.
Masyarakat Indonesia sudah sejak lama
memanfaatkan minyak biji kemiri sebagai penumbuh dan penyubur rambut. Jika
teratur mengoleskan minyak kemiri ke kulit kepala, maka rambut yang tumbuh akan
jadi sehat, tebal, dan berkilau.
Seperti yang dikutip dari kompas online,
selain sebagai obat penyubur rambut, buah kemiri juga diyakini mempunyai
khasiat bisa mengobati buang air besar yang berdarah, diare, disentri, sakit
perut, sembelit, demam, sariawan, dan juga sakit gigi.
Pada kemiri, banyak terkandung zat gizi
dan nongizi. Zat nongizi dalam kemiri misalnya saponin, falvonoida, dan
polifenol. Banyak peneliti yang telah membuktikan bahwa ketiga komponen ini
mempunyai arti yang sangat besar untuk kesehatan. Kandungan zat gizi mikro yang
terdapat dalam kemiri contohnya protein, lemak, dan karbohidrat.
Kalium, fosfor, magnesium, dan kalsium
merupakan jenis mineral yang dominan pada buah kemiri. Selain itu juga
terkandung zat besi, seng, tembaga, dan selenium, dalam jumlah sedikit.
Sekitar 53 persen dari kemiri adalah
lemak. Namun lemak tersebut adalah lemak tak jenuh yang bukan cuma mampu
menurunkan kadar LDL, tapi juga mencegah penggumpalan darah yang merupakan
biang keladi serangan jantung dan stroke.
Kandungan penting kemiri lainnya adalah
vitamin, folat, serta fitosterol yang bisa merusak enzim pembentuk kolesterol
di dalam hati, sehingga menghambat pembentukan kolesterol.
Ada dua jenis protein yang ada pada biji
kemiri, yaitu asam amino esensial dan nonesensial. Salah satu fungsi asam amino
adalah untuk pertumbuhan karena asam amino terdapat di semua jaringan dan
membentuk protein dan antibodi.
Asam amino nonesensial yang menonjol
pada kemiri, yaitu asam glutamat dan asam aspartat. Keberadaan asam glutamat
memberikan rasa nikmat di lidah, sehingga kemiri bisa menjadi pengganti
alternatif penyedap masakan seperti MSG
2.3
Faktor yang Mempengaruhi Ekstraksi
Faktor-faktor yang memengaruhi laju
ekstraksi adalah tipe persiapan sampel, waktu ekstraksi, kuantitas pelarut,
suhu pelarut, dan tipe pelarut. Dibandingkan dengan cara maserasi, ekstraksi
dengan Soxhlet memberikan hasil ekstrak yang lebih tinggi karena pada cara ini
digunakan pemanasan yang diduga memperbaiki kelarutan ekstrak. Makin polar
pelarut, bahan terekstrak yang dihasilkan tidak berbeda untuk kedua macam cara
ekstraksi. Fenolat total yang tertinggi didapatkan pada proses ekstraksi
menggunakan pelarut etil asetat. Sifat antibakteri tertinggi terjadi pada
ekstrak yang diperoleh dari ekstraksi menggunakan pelarut etil asetat untuk
ketiga macam bakteri uji Gram-positif. Semua ekstrak tidak menunjukkan daya
hambat yang berarti pada semua bakteri uji Gram-negatif (Lucas dan David 1949).
2.4
Metode Soxhletasi
Soxhletasi adalah salah satu metode yang
dapat digunakan untuk mengisolasi minyak lemak. Soxhletasi merupakan ekstraksi
padat-cair berkesinambungan, disebut ekstraksi padat-cair karena substansi yang
diekstrak terdapat di dalam campuran yang berbentuk padat, sedangkan disebut berkesinambungan
karena pelarut yang sama dipakai berulang-ulang sampai proses ekstraksi
selesai. Keuntungan dari metode ini antara lain menggunakan pelarut yag lebih
sedikit karena pelarut tersebut akan dipakai untuk mengulang ekstraksi dan uap
panas tidak melalui serbuk simplisia, tetapi melalui pipa samping. Tetapi
metode ini juga memiliki beberapa kelemahan antara lain, tidakdapat digunakan
pada bahan yang mempunyai tekstur yang jelas, selain itu pengerjaannya rumit dan
agak lama, karena harus diuapkan di rotavapor untuk memperoleh ekstrak kental.
Ekstraksi
Soxhletasia. Ekstraksi adalah proses pemisahan suatu
zat berdasarkan perbedaan kelarutannya terhadap dua cairan tidak saling larut
yang berbeda, biasanya air dan yang lainnya pelarut organic 6. Soxhletasi
merupakan ekstraksi padat-cair yang berkesinambungan. Ekstraksi ini biasanya dilakukan
dengan suatu alat yang dinamakan Soxhlet 7.
Prinsip dasar ekstraksi dan soxhletasi
adalah distribusi zat terlarut dalam dua pelarut yang tidak bercampur. Prinsip metoda
ini didasarkan pasa distribusi zat terlarut dengan perbandingan tertentu antara
dua pelarut yang saling tidak bercampur. Batasnya adalah zat terlarut dapat
ditransferdalam jumlah yang berbeda dalam kedua fasa pelarut 8.
Prinsip Soxhletasi : Penyairan secara
berkesinambungan, dimana cairan penyari dipanaskan sehingga menguap, uap cairan
akan terkondensasi molekul-molekul cairan penyari oleh pendingin balik dengan turun
kedalam klonsong menyari simplisia dan selanjutnya masuk kembali kedalam labu
alas bulat setelah melewati pipa siphon, proses ini berlangsung hingga
penyarian zat aktif menjadi sempurna
Metode Soxhletasi termasuk jenis
ekstraksi menggunakan pelarut semikontinu. Ekstraksi dengan pelarut semikontinu
memenuhi ruang ekstraksi selama 5 sampai dengan 10 menit dan secara menyeluruh
memenuhi sampel kemudian kembali ke tabung pendidihan. Kandungan lemak diukur
melalui berat yang hilang dari contoh atau berat lemak yang dipindahkan. Metode
ini menggunakan efek perendaman contoh dan tidak menyebabkan penyaluran.
Walaupun begiru, metode ini memerlukan waktu yang lebih lama daripada metode
kontinu (Nielsen 1998).
Prinsip Soxhlet ialah ekstraksi
menggunakan pelarut yang selalu baru yang umumnya sehingga terjadi ekstraksi
kontiyu dengan jumlah pelarut konstan dengan adanya pendingin balik. Soxhlet
terdiri dari pengaduk atau granul anti-bumping, still pot (wadah penyuling,
bypass sidearm, thimble selulosa, extraction liquid, syphon arm inlet, syphon
arm outlet, expansion adapter, condenser (pendingin), cooling water in, dan
cooling water out (Darmasih 1997).
Langkah-langkah dalam metode Soxhlet
adalah : menimbang labu lemak kosong, masukkan pelarut heksana ke dalam labu,
pasang labu soxhlet dan kondensor, panaskan kurang lebih 2 jam sampai semua
lemak terekstrak, timbel diangkat, pelarut yang mengandung lemak diuapkan,
masukkan labu ke dalam oven untuk menghilangkan sisa pelarut, timbang labu
berisi lemak hasil ekstraksi.
Sampel yang sudah dihaluskan, ditimbang ±
3 gram dan kemudian dibungkus pada kertas saring, , dan diikat dengan benang
wool yang talinya dipanjangkan untuk memudahkan dalam pengambilan setelah
ekstraksi. Pelarut yang digunakan adalah heksana kurang lebih 1,5 dari panjang
soxhlet.
Ketika pelarut dididihkan, uapnya naik
melewati Soxhlet menuju ke pipa pendingin. Air dingin yang dialirkan melewati
bagian luar kondensor mengembunkan uap pelarut sehingga kembali ke fase cair,
kemudian menetes ke thimble. Pelarut melarutkan lemak dalam thimble, larutan
sari ini terkumpul dalam thimble dan bila volumenya telah mencukupi, sari akan dialirkan
lewat sifon menuju labu. Proses dari
pengembunan hingga pengaliran disebut sebagai refluks. Proses ekstraksi lemak
dilakukan selama 2 jam. Setelah proses ekstraksi selesai, pelarut dan lemak
dipisahkan melalui proses penyulingan dan dikeringkan (Darmasih 1997).
2.2 Faktor yang Memengaruhi Kadar Lemak
Faktor-faktor yang memengaruhi laju
ekstraksi adalah tipe persiapan sampel, waktu ekstraksi, kuantitas pelarut,
suhu pelarut, dan tipe pelarut. Dibandingkan dengan cara maserasi, ekstraksi
dengan Soxhlet memberikan hasil ekstrak yang lebih tinggi karena pada cara ini
digunakan pemanasan yang diduga memperbaiki kelarutan ekstrak. Makin polar
pelarut, bahan terekstrak yang dihasilkan tidak berbeda untuk kedua macam cara
ekstraksi. Fenolat total yang tertinggi didapatkan pada proses ekstraksi
menggunakan pelarut etil asetat. Sifat antibakteri tertinggi terjadi pada
ekstrak yang diperoleh dari ekstraksi menggunakan pelarut etil asetat untuk
ketiga macam bakteri uji Gram-positif. Semua ekstrak tidak menunjukkan daya
hambat yang berarti pada semua bakteri uji Gram-negatif (Lucas dan David 1949).
2.3
Kemiri
Kemiri (Aleurites moluccana), adalah
tumbuhan yang bijinya dimanfaatkan sebagai sumber minyak dan rempah-rempah.
Tumbuhan ini masih sekerabat dengan singkong dan termasuk dalam suku
Euphorbiaceae. Dalam perdagangan antarnegara dikenal sebagai candleberry,
Indian walnut, serta candlenut. Pohonnya disebut sebagai varnish tree atau
kukui nut tree. Minyak yang diekstrak dari bijinya berguna dalam industri untuk
digunakan sebagai bahan campuran cat.
Kemiri terutama ditanam untuk bijinya;
yang setelah diolah sering digunakan dalam masakan Indonesia dan masakan
Malaysia. Di Pulau Jawa, kemiri juga dijadikan sebagai saus kental yang dimakan
dengan sayuran dan nasi. Kemiri memiliki kesamaan dalam rasa dan tekstur dengan
macadamia yang juga memiliki kandungan minyak yang hampir sama. Kemiri juga
dibakar dan dicampur dengan pasta dan garam untuk membuat bumbu masak khas
Hawaii yang disebut inamona. Inamona adalah bumbu masak utama untuk membuat
poke tradisional Hawaii.
Inti biji kemiri mengandung 60–66%
minyak. Di Hawaii, pada masa kuno, kemiri (di sini disebut kukui) dibakar untuk
menghasilkan cahaya. Kemiri disusun berbaris memanjang pada sehelai daun palem,
dinyalakan salah satu ujungnya, dan akan terbakar satu demi satu setiap 15
menit atau lebih. Ini juga berguna sebagai alat pengukur waktu. Misalnya,
seseorang bisa meminta orang lain untuk kembali ke rumah sebelum kemiri kedua
habis terbakar. Di Tonga, sampai sekarang, kemiri yang sudah matang (dinamai
tuitui) dijadikan pasta (tukilamulamu), dan digunakan sebagai sabun dan
shampoo.
Penanaman kemiri modern kebanyakan hanya
untuk memperoleh minyaknya. Dalam setiap penanaman, masing-masing pohon akan
menghasilkan sekitar 30–80 kg kacang kemiri, dan sekitar 15 sampai 20% dari
berat tersebut merupakan minyak yang didapat. Kebanyakan minyak yang dihasilkan
digunakan secara lokal, tidak diperdagangkan secara internasional.
Minyak kemiri terutama mengandung asam oleostearat. Minyak yang lekas
mengering ini biasa digunakan untuk mengawetkan kayu, sebagai pernis atau cat,
melapis kertas agar anti-air, bahan sabun, bahan campuran isolasi, pengganti
karet, dan lain-lain. Minyak kemiri ini berkualitas lebih rendah daripada tung
oil, minyak serupa yang dihasilkan oleh Vernicia fordii (sin. Aleurites fordii)
dari Cina.
- Kandungan Kemiri
Kandungan 100 gr
kemiri.
-
Jumlah Kandungan Energi Kemiri = 636
kkal
-
Jumlah Kandungan Protein Kemiri = 19 gr
-
Jumlah Kandungan Lemak Kemiri = 63 gr
-
Jumlah Kandungan Karbohidrat Kemiri = 8
gr
-
Jumlah Kandungan Kalsium Kemiri = 80 mg
-
Jumlah Kandungan Fosfor Kemiri = 200 mg
-
Jumlah Kandungan Zat Besi Kemiri = 2 mg
-
Jumlah Kandungan Vitamin A Kemiri = 0 IU
-
Jumlah Kandungan Vitamin B1 Kemiri =
0,06 mg
-
Jumlah Kandungan Vitamin C Kemiri = 0 mg
2.4
Pelarut Heksana
n-Heksana adalah bahan kimia yang
terbuat dari minyak mentah. Normal heksana tidak berwarna dan memiliki bau yang
tajam. Bahan ini mudah terbakar dan uapnya bersifat eksplosif. Kebanyakan
heksana digunakan pada industri sebagai pelarut. Pelarut yang menggunakan
n-heksana bisanya digunakan untuk mengestrak minyak sayuran dari hasil
pertanian, seperti kedelai. Pelarut ini juga digunakan sebagai agen pembersih
pada percetakan, tekstil, furniture, dan industri pembuatan sepatu. Heksana
larut hanya pada air.
Kebanyakan n-heksana yang tumpah di air akan mengapung
ke permukaan dimana heksana akan menguap ke udara (U.S. Department of Health
and Human Services 1999).
BAB
III
METODE
PRAKTIKUM
3.1
Alat
·
Labu lemak
·
Soxhlet
·
Pendingin balik (kondensor)
·
Oven
·
Timbangan analitik
·
Kertas saring
·
Benang wool
·
Cawan petri
3.2 Bahan
·
Heksana
·
Kemiri
3.3 Cara Kerja
Pembuatan timbel
Kertas saring ditimbang, lalu diatasnya
dituangkan sampel sebanyak ± 3 gram, kemudian sampel dibungkus dengan kertas
saring tersebut, dan dilihat dengan benang wool yang talinya dipanjangkan untuk
memudahkan dalam pengambilan setelah ekstraksi.
Penentuan Kadar Lemak
1. Timbang
sampel ± 3 gram
2. Timbang
labu lemak kosong (a)
3. Masukkan
pelarut Heksana ke dalam labu
4. Pasang
labu Soxhlet dan Kondesor
5. Panaskan
±2 jam sampai semua lemak tersekstrak
6. Timbel
diangkat
7. Uapkan
pelarut yang mengandung lemak
8. Masukkan
labu ke dalam oven untuk menghilangkan sisa pelarut
9. Timbang
labu yang berisi lemak hasil ekstraksi (b)
BAB
IV
HASIL
DAN PENGAMATAN
4.1
Data Hasil Pengamatan
Data
Pengamatan Kadar Lemak Kemiri
Sampel
|
Berat labu lemak kosong (a) g
|
Berat labu lemak (b) g
|
Kadar lemak (%)
|
B1 (kemiri)
|
55, 1986
|
57,0713
|
60,55
|
B2 (kemiri)
|
101,7579
|
103,4891
|
57
|
B3 (kemiri)
|
54,8657
|
56,5283
|
54,68
|
B4 (mente)
|
55,1278
|
56,3782
|
41,68
|
B5 (mente)
|
103,5353
|
104,8307
|
43
|
B6 (mente)
|
54,7046
|
55,8513
|
37,89
|
Perhitungan Penentuan
Kadar Lemak Kemiri :
Dik
:
berat sampel = 3,0406 gram
a = 54,8657
gram
b = 56,5283
gram
Penyelesaian
:
4.2
Pembahasan
Penentuan kadar minyak atau lemak suatu
bahan dapat dilakukan dengan alat ekstraktor Soxhlet. Ekstraksi dengan alat
Soxhlet merupakan cara ekstraksi yang efisien, karena pelarut yang digunakan
dapat diperoleh kembali. Dalam penentuan kadar minyak atau lemak, bahan yang
diuji harus cukup kering, karena jika masih basah selain memperlambat proses
ekstraksi, air dapat turun ke dalam labu dan akan mempengaruhi dalam perhitungan.
Analisis kadar lemak menggunakan metode
ekstraksi Soxhlet. Peralatan yang digunakan adalah timbangan analitik dengan
tingkat ketelitian 4 desimal, labu Soxhlet, oven, desikator, botol timbang.
Bahan kimia yang digunakan untuk analisis kadar lemak adalah kertas saring, dan
heksana.
Proses ekstraksi selesai apabila
pelarutnya sudah jernih. Pelarut yang jernih menandakan bahwa lemak yang
terdapat dalam soxhlet telah masuk semua kedalam labu didih, pelarut dan minyak
dapat dipisahkan dengan cara dipanaskan karena titik didih lemak lebih tinggi
dari pelarut, sehingga kita bisa mengukur berat lemak hasil ekstraksinya.
Kesalahan yang sering terjadi pada saat
ekstraksi kadar lemak ini adalah praktikan tidak mengetahui apakah pelarut
tersebut sudah bening atau belum, kesalahan ini akan sangat fatal karena jika
praktikan menghentikan proses ekstraksi sedangkan kandungan lemak dalam bahan
masih banyak maka perhitungan kadar lemak bahan akan berkurang sehingga hasil
yang didapatkan tidak maksimal.
Berdasarkan pada hasil yang didapatkan
itu, maka dapat diketahui bahwa kadar lemak yang terdapat pada ± 3 gram kemiri
yaitu sekitar 54,68 %. Perbedaan hasil antara kelompok 1 sampai 6 ini mungkin
terjadi karena pada saat penghaluskan bahan yang kurang sempurna atau kurang
teliti saat melakukan ekstraksi.
BAB
V
PENUTUP
Kesimpulan
Dari
hasil praktikum yang telah kita lakukan, dapat disimpulkan bahwa :
Kadar
lemak merupakan kandungan lemak yang terdapat dalam bahan pangan. Bahan pangan
yang mengandung kadar lemak banyak mengindikasikan bahwa bahan tersebut banyak
mengandung lemak atau minyak. Untuk mengetahui kadar lemak suatu bahan kita dapat
menganalisis dengan metode ekstraksi dengan menggunakan soxhlet.
Bahan
yang paling banyak mengandung lemak adalah Kemiri dengan rata-rata sekitar
57.41% dibandingkan dengan mete yang hanya mempunyai rata-rata lemak sekitar 40.86
%.
Saran
Didalam
melakukan analisis, praktikan diharapkan ketelitiannya didalam menimbang
bahan-bahan praktium dengan tepat dan juga memperhatikan penggunaan alat-alat
yang digunakan serta mengikuti penuntun praktikum agar data yang diperoleh
valid.
DAFTAR PUSTAKA
Comments
Post a Comment
terima kasih atas kritik dan saran menbangunnya