Popular Posts

MASSA JENIS ATAU DENSITAS

Pasar Persaingan Sempurna

Alat Pengecil Ukuran

BIOINDUSTRI - MIKROALGA

1.      Pendahuluan
Mikroalga adalah jenis tanaman ganggang yang memiliki ukuran mikro. Menurut pigmen yang terkandung dalam tubuh mikroalga, ada empat kelompok mikroalga yang sejauh ini dikenal di dunia,yakni diatom ( Bacillariophyceae), gang-gang hijau (Chlorophyceae), ganggang emas (Chrysophyceae), dan ganggang biru(Cyanophyceae).
Keempat kelompok mikroalga tersebut bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku bioenergi. Di perairan terdapat ratusan jenis mikroalga. Namun belum banyak yang dimanfaatkan untuk bahan baku pembuatan bioenergi. Keberadaan mikroalga sangat membantu dalam pencegahan terjadinya pemanasan global. Mikroalga mampu berfotosintesis dan mereduksi jumlah karbondioksida yang berada di alam. Industri-industri yang menghasilkan karbon dengan jumlah yang besar bisa menggunakan mikroalga ini untuk mengurangi dampak pemanasan akibat karbondioksida buangan.
Beberapa alasan mikroalga baik dikembangkan di Indonesia karena beberapahal, yaitu keanekaragaman mikroalga yang tinggi di Indonesia, potensi geografis dengan perairan laut tropis yang luas dan sinar matahari yang melimpah, kemampuan untuk memfiksasi CO2 , berpotensi sebagai sumber bioenergi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, tidak ada konflik dengan lahan untuk pangan.
Kultivasi merupakan suatu teknik untuk menumbuhkan mikroalga dalam lingkungan tertentu yang terkontrol. Kultivasi bertujuan untuk menyediakan spesies tunggal pada kultur masal mikroalga untuk tahap pemanenan. Teknologi bioproses adalah teknologi yang berkaitan dengan segala operasi dan proses yang memanfaatkan mikroorganisma baik dalam fasa hidupnya maupun produk-produk enzimnya. Teknologi bioproses merupakan gabungan antara bioteknologi dan teknik kimia (Lischer, 2009).
Pengembangan kultivasi dan bioprosesdilakukan mulai dari skala laboratorium oleh mahasiswa hingga penerapan yang dilakukan di industri sebagai wujud pemanfaatan CO2 buangan dari pabrik. Ada tahapan-tahapan penting yang harus dilakukan dalam kultivasi dan bioproses untuk produksi miyak yang akan menunjang keberhasilan kegiatan ini.
Tujuan dari dari kultivasi dan bioproses mikroalga adalah untuk mendapatkan sumber energi alternatif sebagai solusi dari berkurangnya cadangan bahan bakar fosil yang sangat vital bagi kelangsungan kehidupan.

2.      Alat dan Bahan untuk Kultivasi Mikroalga (skala Lab)
-          Autoclave
-          Galon air mineral / botol untuk kultivasi
-          Media walne
-          Aerator
-          Pupuk pertanian (npk)
-          Mikroalga nannocloropsis
-          Pipet Tetes/Pipet Volume
-          Formalin

3.      Kultivasi Mikroalga

Sebagian besar mikroalga menggunakan cahaya dan karbon dioksida (CO2) sebagai sumber energi dan sumber karbon (organisme photoautotrophic). Pertumbuhan optimum mikroalga membutuhkan temperatur air berkisar 15 - 30˚C. Media pertumbuhan juga harus mengandung elemen inorganik yang berfungsi dalam pembentukan sel, seperti nitrogen, phospor, dan besi. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengembangkan teknik, prosedur dan proses produksi mikroalga dalam jumlah besar. Open ponds system dan photobioreactor system merupakan teknik budidaya mikroalga yang paling sering digunakan.

Open ponds merupakan sistem budidaya mikroalga tertua dan paling sederhana. Sistem tersebut sering dioperasikan secara kontinyu. Umpan segar (mengandung nutrisi termasuk nitrogen, phosphor, dan garam inorganic) ditambahkan di depan paddlewheel dan setelah beredar melalui loop-loop mikroalga tersebut dapat dipanen di bagian belakang dari paddlewheel. Paddlewheel digunakan untuk proses sirkulasi dan proses pencampuran mikroalga dengan nutrisi. Beberapa sumber limbah cair dapat digunakan sebagai kultur dalam budidaya mikroalga. Pemilihan sumber limbah cair tersebut berdasarkan pemenuhan kebutuhan nutrisi dari mikroalga. Mikroalga laut dapat menggunakan air laut atau air dengan tingkat salinitas tinggi sebagai media kultur.
Biaya operasional sistem open ponds lebih rendah dibandingkan dengan sistem photobioreactor, namun sistem tersebut memiliki beberapa kelemahan. Open ponds merupakan sistem kolam terbuka sehingga mengalami evaporasi akut, dan penggunaan karbon dioksida (CO2) menjadi tidak efisien. Produktivitas mikroalga juga dibatasi oleh kontaminasi dari alga atau mikroorganisme yang tidak diinginkan. Gambar 2 menunjukkan sistem open ponds dengan photobioreactor.

Photobioreactor dikembangkan untuk mengatasi permasalahan kontaminasi dan evaporasi yang sering terjadi dalam sistem open pond. Sistem tersebut terbuat dari material tembus pandang dan umumnya diletakkan di lapangan terbuka untuk mendapatkan cahaya matahari. Pada dasarnya, photobioreactor terdapat dalam 2 jenis, plate dan tubular. Photobioreactor tubular lebih sesuai digunakan di lapangan terbuka.
Pada dasarnya, terdapat dua tipe photobioreactor, yaitu tipe flat plate dan tipe tubular. Apabila dibandingkan, tipe tubular lebih cocok untuk aplikasi di luar ruangan karena luasnya permukaan untuk proses iluminasi. Namun, flat plate photobioreactor juga sering digunakan karena tipe ini dapat meratakan intensitas penyinaran sehingga sel yang dihasilkan memiliki densitas yang lebih tinggi.
Tipe plate-flat photobioreactor lebih disukai karena: (i) konsumsi energi lebih rendah dan kapasitas transfer massa tinggi; (ii) efesiensi fotosintetis tinggi; dan (iii) tdak terdapat ruang yang tidak terkena cahaya. Desain dari tipe ini juga beragam mulai dari tipe gelas hingga PVC transparan dan tebal.
Photobioreactor memiliki rasio luas permukaan dan volume yang besar. Produktivitas mikroalga menggunakan photobioreactor dapat mencapai 13 kali lipat total produksi dengan menggunakan sistem open raceway pond.

4.      Pembahasan
Mikroalga adalah jenis tanaman ganggang yang memiliki ukuran mikro. Keberadaan mikroalga sangat membantu dalam pencegahan terjadinya pemanasan global. Mikroalga mampu berfotosintesis dan mereduksi jumlah karbondioksida yang berada di alam. Kultivasi merupakan suatu teknik untuk menumbuhkan mikroalga dalam lingkungan tertentu yang terkontrol. Kultivasi bertujuan untuk menyediakan spesies tunggal pada kultur masal mikroalga untuk tahap pemanenan. Adapun tahapan-tahapannya ialah sebagai berikut :
-          Penyiapan Media tumbuh : media yang digunakan dalam praktikum disini ialah media walne.
-          Sampling : sampling dilakukan didaerah pantai kedonganan dengan menggunakan planktonnet yang berupa seperti jaring hanya saja ukuran pori-porinya lebih kecil, berukuran ± 2 mikron.
-          Isolasi : Isolasi mikroalga merupakan suatu teknik untuk memisahkan spesies mikroalga dari sumbernya di alam. Tujuannya adalah untuk memperoleh satu spesies mikroalga untuk tahap monokultur. Pengambilan sampel mikroalga diambil dari habitat aslinya kemudian dilakukan perlakuan khusus di laboratorium. Ada beberapa metode isolasi yang dapat digunakan, tapi kali ini digunakan metode pengenceran bertingkat.
-          Kultivasi : Kultivasi mikroalga merupakan suatu teknik untuk menumbuhkan mikroalga dalam lingkungan tertentu yang terkontrol. Tujuannya adalah menyediakan spesies tunggal pada kultur masal mikroalga untuk tahap pemanenan. Proses kultivasi ini dapat dilakukan didalam ruangan (indoor) maupun di luar ruangan (outdoor). Kebutuhan mikroalga selama proses kultivasi harus sangat diperhatikan diataranya:
1.      Cahaya
2.      Air
3.      Karbondoksida
4.      Mineral dan Nutrien
Selama proses kultivasi terdapat fase pertumbuhan mikroalga yaitu:
1.      Lag or Induction Phase
2.      Exponensial Phase
3.      Phase of Declining Growth Rate
4.      Stationary Phase
-          Pemanenan : pemanenan mikroalga ini dilakukan dengan teknik flocculation yaitu memisahkan mikroalga dengan media kultur cair dengan cara menggabungkan dengan spesies mikroalga yang bersifat flukulan atau dapat juga disebut dengan pengendapan. Setelah diendapkan kemudian dilakukan teknik filtration yaitu biomassa mikroalga dipisahkan dari media kultur cair menggunakan kain/jarring penyaringan berdiameter kecil. Pemanenan dilakukan pada saat akhir fase lag


DAFTAR PUSTAKA
ejournal.undip.ac.id/index.php/metana/article/download/3431/3078‎



Comments