INDUSTRI JASA BOGA
HACCP DAN PENERAPANNYA PADA PROSES
PENGOLAHAN
SEAFOOD SALAD
OLEH:
PUTU MUTIA
1111205031
JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI
PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS UDAYANA
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
HACCP
merupakan suatu sistem kontrol dalam upaya pencegahan terjadinya masalah yang
didasarkan atas identifikasi titik-titik kritis (CCPs) di dalam tahap
penanganan dan proses produksi suatu produk. HACCP bersifat sangat penting
utamanya pada produk pangan, karena apabila tidak ditangani dengan baik akan
menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan.
Salad
adalah suatu istilah yang luas dipergunakan bagi persiapan jenis-jenis makanan
yang merupakan campuran dari potongan-potongan bahan-bahan makanan siap santap.
Suatu salad dapat disajikan dingin-dingin (setelah didinginkan terlebih dahulu
dalam lemari pendingin) atau disajikan dalam temperatur ruang, dan dapat juga
menjadi isi dari roti sandwich. Walaupun dapat dibuat atau terdiri dari bahan
daging matang atau telur (rebus atau goreng), umumnya jenis makanan ini terdiri
dari setidaknya satu jenis sayuran mentah (lalapan) atau buah-buahan, umumnya
digunakan selada. Seringkali salad disajikan
dengan saus (dressing) tertentu. Secara fisik, seafood salad terlihat tidak
jauh berbeda dengan salad pada umumnya. Hal yang membedakan seafood salad dengan
salad biasa adalah pada bahan baku yang digunakan. Pada proses pengolahan salad
seafood, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan agar kualitas produk
tetap terjaga.
Pada
makalah ini, akan disampaikan mengenai analisis HACCP pada salah satu produk
pangan yang dihidangkan di restaurant 168, yaitu seafood salad.
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang diatas, maka didapat beberapa rumusan masalah, antara lain:
1. Bagaimana
penerapan HACCP pada pengolahan salad seafood?
2. Apa
saja yang menjadi titik-titik kritis pada proses pembuatan salad seafood?
3. Apa
saja bahaya yang akan ditimbulkan apabila pembuatan salad seafood tidak
ditangani dengan baik?
1.3
Tujuan Penelitian
Berdasarkan
rumusan masalah yang telah dibuat, maka tujuan dari penelitian ini antara lain:
1. Untuk
mengetahui bagaimana penerapan HACCP pada pengolahan salad seafood.
2. Untuk
mengetahui apa saja yang menjadi titik-titik kritis pada proses pembuatan salad
seafood.
3. Untuk
mengetahui bahaya yang akan timbul apabila pembuatan salad seafood tidak
ditangani dengan baik.
1.4
Manfaat Penelitian
Berikut
merupakan manfaat yang akan didapat dari penelitian ini:
1. Mahasiswa
mengetahui bagaimana penerapan HACCP pada pengolahan salad seafood.
2. Mahasiswa
mengetahui titik-titik kritis pada prose pembuatan salad seafood.
3. Mahasiswa
mengetahui bahaya yang timbul apabila pembuatan salad seafood tidak ditangani
dengan baik.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian HACCP
Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP)
adalah suatu sistem kontrol dalam upaya pencegahan terjadinya masalah yang
didasarkan atas identifikasi titik-titik kritis di dalam tahap penanganan dan
proses produksi. HACCP merupakan salah satu bentuk manajemen resiko yang
dikembangkan untuk menjamin keamanan pangan dengan pendekatan pencegahan (preventive) yang dianggap dapat memberikan jaminan
dalam menghasilkan makanan yang aman bagi konsumen.
2.2 Penerapan HACCP Pada Industri Pangan
Penerapan
HACCP dalam industri pangan memerlukan komitmen yang tinggi dari pihak
manajemen perusahaan yang bersangkutan. Disamping itu, agar penerapan HACCP ini
sukses maka perusahaan perlu memenuhi prasyarat dasar industri pangan yaitu,
telah diterapkannya Good Manufacturing Practices
(GMP) dan Standard Sanitation Operational
Procedure (SSOP). Pada tahun 1993, Codex
Alimentarius Commision telah mengadopsi sistem HACCP yang kemudian
disempurnakan pada tahun 1996 dengan menyusun pedoman implementasi HACCP dengan
langkah sistematis yang terdiri dari 12 langkah, dengan bagian lima langkah
awal dan tujuh langkah berikutnya yang juga merupakan tujuh prinsip HACCP.
Berikut merupakan kedua belas langkah-langkah alur penerapan HACCP:
Tahap 1 : Menyusun
tim HACCP,
Tahap 2 : Mendeskripsikan
produk,
Tahap 3 : Mengidentifikasi
bahan yang digunakan beserta tahapannya,
Tahap 4 : Menyusun
diagram alir proses,
Tahap 5 : Mengkonfirmasi
diagram air proses di lapangan,
Tahap 6 : Melakukan
analisis bahaya potensial pada setiap tahapan proses,
Tahap 7 : Menentukan
titik-titik pengendalian kritis (CCPs),
Tahap 8 : Menentukan
batas-batas kritis untuk masing-masing CCP,
Tahap 9 : Menentukan
prosedur pemantauan,
Tahap 10 : Menentukan
tindakan koreksi jika terdapat penyimpangan dari batas kritis,
Tahap 11 : Menentukan prosedur verifikasi tahapan atau
proses yang dilakukan,
Tahap 12 : Menentukan
sistem dokumentasi dan sistem penyimpanan catatan (rekaman).
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Penerapan HACCP Pada Pengolahan Salad Seafood
Berikut
merupakan tahap-tahap penerapan HACCP pada proses pengolahan salad seafood:
3.1.1
Tahap 1: Penyusunan Tim HACCP
Pada penyusunan tim HACCP ini, akan
dibentuk sebuah tim yang terdiri dari beberapa anggota dengan latar belakang
pendidikan atau pengalaman kerja yang berbeda (multi disiplin). Anggota tim
HACCP ini minimal pernah diberikan pelatihan mengenai HACCP, dan minimal satu
anggota tim HACCP ini telah tersertifikasi. Jumlah tim HACCP ini adalah 5-6
orang dengan latar belakang keilmuan yang berbeda, seperti mikrobiologi,
sanitasi, kimia, rekayasa, dan bagian pembelian.
Sebuah tim HACCP yang ideal sebaiknya
meliputi satu orang staff Quality Assurance atau Quality Control, satu orang personil
bagian produksi, satu orang personil bagian teknis (engineering), satu orang ahli mikrobiologi, dan satu orang ketua
tim. Tim HACCP yang telah terbentuk bertugas menyusun suatu rencana HACCP
dengan rutin melakukan diskusi dan brainstorming.
3.1.2
Tahap 2: Mendeskripsikan Produk
Berikut ini merupakan deskripsi produk salad
seafood:
Parameter Deskripsi
|
Keterangan
|
Nama
produk
|
Salad
seafood
|
Komposisi
|
Ikan
tuna, tomat, timun jepang, mayonnaise, garam, merica
|
Karakteristik
produk
|
Warna
produk warna-warni karena dicampur tiap bahan yang ada. Aromanya pun khas
mayonnaise yang bercampur tuna dan tomat.
|
Metode
pengolahan
|
Perebusan
|
Pengemas
primer
|
Bowl
|
Pengemas
sekunder
|
-
|
Kondisi
penyimpanan
|
Suhu
ruang.
|
Umur
simpan
|
½
hari pada suhu ruang.
|
Metode
distribusi
|
Diambil
langsung oleh pelanggan. Self service
|
Tabel 1. Deskripsi produk
3.1.3
Tahap 3: Mengidentifikasi Bahan dan
Tahapan
Parameter Identifikasi
|
Keterangan
|
Cara
penggunaan produk
|
Langsung
dikonsumsi setelah disajikan.
|
Cara
penyajian
|
Disajikan
dalam suhu ruang atau dingin.
|
Kelompok
konsumen
|
Dapat
dikonsumsi oleh konsumen dari semua kalangan masyarakat.
|
Bahan
|
·
Ikan tuna
·
Garam secukupnya
·
Merica
·
Mayonnaise
·
Timun jepang
·
Tomat
|
Tahapan
|
§ Persiapan
bahan baku
1.
Rebus
tuna sampai matang
2.
Potong
dadu tomat dan timun jepang yang sudah dicuci dan dibersihkan
3.
Campur
semua bahan dengan tambahan garam, mayonaise dan merica secukupnya
4.
Sajikan
dalam bowl yang sudah disediakan
|
Tabel 2. Identifikasi bahan dan tahapan
i.
Tahap 4: Verifikasi Diagram Alir Proses
Diagram alir proses pembuatan salad
seafood di Restoran Sea Food 168 diverifikasi dengan mengamati aliran proses
yang dilakukan secara nyata, dan wawancara dengan juru masak yang bersangkutan.
ii.
Tahap 5: Menganalisis Bahaya Potensial
Analisis bahaya potensial merupakan
serangkaian kegiatan, yang meliputi:
a. Identifikasi
Bahaya
b. Kajian
Resiko (Signifikansi Bahaya)
c. Penetapan
Tindakan Pencegahan
Berikut
merupakan analisis bahaya potensial pada bahan baku salad seafood:
Bahan
|
Bahaya
|
Resiko
|
Tindakan
Pengendalian
|
Ikan
tuna
|
·
Fisik : Tulang ikan
·
Kimia : pewarna
|
Rendah
Tinggi
|
·
Pemisahan tulang dari daging ikan
tuna tersebut
·
Pemilihan bahan yang benar-benar
bagus dari supplier yang sudah tersertifikasi
|
Air
bersih
|
·
Fisik: Debu
·
Biologi: Coliform, Shigella sp., V. cholerae.
|
Sedang
|
·
Tidak menggunakan air permukaan
·
Tidak menggunakan air tercemar
|
Tomat
|
·
Fisik : debu, tanah, ulat
·
Kimia : pestisida
·
Biologis : Pseudomonas
solanacearu, Cercospora sp. , Xanthomonas campestris
|
Rendah
Tinggi
Sedang
|
·
Cuci tomat dengan air bersih
mengalir, perhatikan tomat-tomat yang tidak layak digunakan.
·
Pilih tomat-tomat yang masih
bagus tanpa cacat
|
Garam
|
·
Fisik: Kerikil, tanah
|
Rendah
|
·
Penyiangan untuk memisahkan
kotoran
|
Merica
|
-
|
-
|
-
|
Timun
jepang
|
·
Fisik: tanah
|
Rendah
|
·
Pencucian yang harus dilakukan
dengan benar
|
Mayonnaise
|
-
|
-
|
-
|
Tabel 3. Analisis bahaya potensial pada bahan baku salad
seafood
Berikut
ini merupakan analisis bahaya potensial pada proses produksi salad seafood:
Tahap
|
Bahaya
|
Sumber Bahaya
|
Resiko
|
Tindakan Pengendalian
|
Pembelian
dan penerimaan bahan baku
|
·
Adanya cemaran fisik (debu,
tanah, kerikil, kulit)
·
Adanya serangga pada
rempah-rempah
|
·
Bahan baku yang kurang bersih
·
Bahan baku yang busuk/rusak
|
Tinggi
|
·
Pencucian bahan dari cemaran
fisik
·
Pengayakan/penyiangan cemaran
fisik pada garam dan tepung terigu
|
Perebusan
Tuna
|
Adanya
cemaran mikrobiologi : Vibrio
parahaemolyticus, Vibrio vulnificus dan V.Cholerae. Escherichia coli, Campylobacter sp.
·
Kontaminasi silang dari alat
|
·
Alat yang digunakan kurang bersih
·
Pencucian tidak dengan air bersih
yang mengalir
|
Tinggi
|
·
Pembersihan/pencucian alat yang
dengan air bersih setiap akan digunakan
·
Pencucian terong dengan air
bersih mengalir
·
Peringatan terhadap pekerja agar
selalu mencuci tangan sebelum menangani bahan
|
Penghancuran
tuna yang sudah direbus
|
·
Kontaminasi dari tangan pekerja
|
·
Alat yang digunakan kurang bersih
dan kurangnya mencuci tangan
|
Rendah
|
·
Pembersihan/pencucian alat dengan
air bersih setiap akan digunakan
·
Peringatan terhadap pekerja agar
selalu mencuci tangan sebelum menangani bahan
|
Pemotongan
timun jepang dan tomat
|
·
Kontaminasi dari alat
·
Kontaminasi dari tangan pekerja
|
·
Alat yang digunakan kurang bersih
·
Kurangnya mencuci tangan
|
Sedang
|
·
Pencucian menggunakan air bersih
·
Pembersihan alat dengan optimal
·
Peringatan terhadap pekerja agar
selalu mencuci tangan sebelum menangani bahan
|
Pencampuran
bahan
|
·
Kontaminasi dari alat yang
digunakan (wajan, spatula)
·
Kontaminasi dari tangan pekerja
|
·
Alat yang digunakan kurang bersih
·
Kurangnya mencuci tangan
|
Rendah
|
·
Pembersihan alat dengan seksama
·
Peringatan terhadap pekerja agar
selalu mencuci tangan sebelum menangani bahan
|
Penyajian
salad seafood
|
·
Kontaminasi dari wadah penyajian
·
Kontaminasi dari lalat
|
·
Wadah penyajian yang digunakan
kurang bersih
·
Bowl salad tidak ditutup dengan
baik
|
Sedang
|
·
Pembersihan wadah yang digunakan
dengan seksama
·
Penutupan salad seafood dengan
baik
|
Tabel
3. Analisis bahaya potensial pada proses produksi tempura terong
iii.
Tahap 7: Menentukan Titik-titik Kritis
(CCPs)
Penentuan titik-titik kritis dilakukan
berurutan sesuai dengan diagram alir proses pembuatan tempura terong (gambar
1). Tahapan ini terdiri dari pembelian dan penerimaan bahan rurutan sesuai dengan diagram alir proses
pembuatan ayam pop (gambar 1). tahapan baku, pemotongan dan pembersihan bahan,
perebusan ikan tuna, pencampuran bahan salad dan penyajian salad seafood.
Proses penentuan titik-titik kritis
menggunakan CCP decision tree yang
terdiri dari 5 pertanyaan untuk masing-masing tahapan. Pertanyaan-pertanyaan
ini antara lain apakah terdapat bahaya pada proses ini, apakah ada tingakan
pencegahan untuk menggendalikan bahaya tersebut, apakah proses ini dirancang
khusus untuk menghilangkan atau mengurangi bahaya sampai aman, apakah bahaya
dapat meningkat sampai batas tidak aman, dan apakah proses selanjutnya dapat
menghilangkan atau mengurangi bahaya.
Gambar 2. CCP decision tree
Berdasarkan CCP decision tree, maka
tahapan yang masuk ke dalam titik kritis (CCP) antara lain pembelian dan
penerimaan bahan baku, dan pemotongan,
dan pembersihan bahan-bahan, dan pencampuran bahan salad.
Tahap pembelian dan penerimaan bahan
baku menjadi salah satu CCP disebabkan oleh jamur atau mikroorganisme lain yang
tidak terlihat dengan mata tidak dapat di sortasi dengan baik. Selain itu,
kemungkinan spora dan racun yang dihasilkan mikroorganisme tersebut tidak akan
bersih atau mati atau non aktif hanya dengan perlakuan pemanasan pada proses perebusan.
Hal ini menyebabkan masih terdapatnya kemungkinan untuk terdapat pencemar pada
bahan baku yang mungkin akan lolos pada sortasi.
Tahap pemotongan dan pembersihan tomat
dan timun masuk ke dalam salah satu CCP seafood salad disebabkan oleh kurang
bersihnya peralatan yang digunakan meskipun dapat dikurangi dengan mencuci
peralatan, namun mikroorganisme yang terdapat pada timun dan tomat mungkin
masih terdapat pada bahan.
Critical
Control Point berikutnya adalah pencampuran bahan
salad. Hal ini disebabkan oleh tidak mencuci tangan pada proses pencampuran
salad seafood ini,
Pada pembuatan salad seafood, terdapat
pula 3 CP (Control Point) yang dapat
mempengaruhi hasil akhir produk.
Perebusan ikan tuna merupakan CP
berikutnya. Perebusan ikan tuna masuk ke dalam CP karena apabila perebusan tidak
sampai matang akan membuat mikroba yang terdapat pada ikan belum mati dan tentu
akan dapat menimbulkan bahya bagi konsumen.
iv.
Tahap 8: Menentukan Batas Kritis
Masing-masing CCPs
Berikut
merupakan tabel untuk menentukan CL (Critical Limit) pada CCP:
Critical
Control Point
|
Batas Kritis
|
Pembelian
dan penerimaan bahan baku
|
·
Tidak terdapat bahan baku yang
tercemar dan rusak
|
Pemotongan
dan pembersihan timun jepang dan tomat
|
·
Talenan, pisau, dan wadah yang
digunakan bersih dari pencemar
·
Sanitasi pekerja memuaskan
|
Pencampuran
bahan
|
·
Sebelum melakukan pencampuran
bahan salad, penyaji harus mencuci tangan terlebih dahulu atau menggunakan
selop tangan plastik khusus
|
Tabel 4. Penentuan Critical Limit
v.
Tahap 9: Menentukan Prosedur Pemantauan
Pemantauan dilakukan beberapa kali
dengan pencatatan setiap dilakukan pemantauan. Pemantauan ini perlu dicatat
agar apabila terdapat hal-hal yang menyimpang dari batas kritis yang ditetapkan
di lapangan, maka akan cepat diambil tindakan perbaikan untuk CCP tersebut. Pemantauan
CCP dapat dilakukan dengan lima cara, yaitu observasi visual, evaluasi
sensoris, pengujian fisik, pengujian kimia, dan pengujian mikrobiologi.
Critical
Control Point
|
Prosedur Pemantauan
|
Pembelian
dan penerimaan bahan baku
|
·
Memperhatikan kualitas dan
keadaan bahan yang masuk
|
Pemotongandan
pembersihan timun jepang dan tomat
|
·
Memperhatikan cara pemotongan,
dan pembersihan timun dan tomat
·
Memperhatikan kebersihan alat
yang digunakan selama memotong dan membersihkan timun dan terong
·
Memperhatikan sanitasi pekerja
|
Pencampuran
bahan salad seafood
|
·
Memperhatikan penyaji agar selalu
mencuci tangan
|
Tabel 5. Prosedur Pemantauan
vi.
Tahap 10: Menentukan Tindakan Koreksi
Apabila pemantauan dilakukan dengan
tepat, maka apabila terdapat penyimpangan dari batas kritis pada CCP akan
dengan cepat dapat dideteksi. Karena pemantauan harus memastikan bahwa tindakan
koreksi dapat dilakukan sebelum keadaan produk menjadi tidak aman lagi atau
menyimpang dari batas kritis yang telah ditetapkan sebelumnya. Tidakan koreksi
memiliki dua level, yaitu tindakan segera dan tindakan pencegahan.
vii.
Tahap 11: Menentukan Prosedur Verifikasi
Prosedur verifikasi merupakan
pemeriksaan apakah sistem HACCP bekerja secara efektif dan sesuai dengan sistem
yang telah ditetapkan. Hal ini dilakukan dengan menguji produk akhir,
mendengarkan keluhan konsumen, melihat catatan pemantauan, meneliti
kecenderungan dibutuhkannya perubahan, dan sebagainya. Tindakan perbaikan
menghasilkan perbaikan bagi rencana HACCP, yang menjelaskan apa yang harus
dilakukan, kapan, dimana, frekuensinya, dan sebagainya. Rencana ini akan
terlihat pada lembar data HACCP yang merupakan bagian dari dokumentasi dan recording. Verifikasi terdiri dari empat
jenis kegiatan, yaitu validasi HACCP, tinjauan hasil pemantauan CCP, pengujian
bahan baku produk dalam proses dan produk akhir, dan audit.
viii.
Tahap 12: Menentukan Sistem Dokumentasi
dan Recording
Sistem dokumentasi dilakukan beberapa
dokumen. Salah satunya adalah dengan mengisi lembar data HACCP yang menjelaskan
bahan baku dan tahap proses yang merupakan titik pengendalian kritis (CCP).
Berikut merupakan lembar data HACCP untuk produk salad seafood:
Bahan Baku/Proses
|
Bahaya/Kondisi Menyebabkan Bahaya
|
Cara Pengendalian
|
Parameter CCP
|
Batas Kritis
|
Nilai Target
|
Pemantauan
|
Tindakan Perbaikan
|
Pembelian
dan penerimaan bahan baku
|
·
Adanya cemaran fisik (debu,
tanah, kerikil, kulit, sisik, tulang)
·
Adanya belatung pada tomat
·
Adanya serangga dan jamur pada tomat,
timun dan bahan lainnya
|
·
Pencucian bahan dari cemaran
fisik
·
Pengayakan/penyiangan cemaran
fisik pada garam, gula pasir
·
Penyortiran bahan dan rempah yang
busuk
|
·
Terdapat bahan baku yang tidak
segar (rusak) dan memiliki kualitas dibawah standar
|
·
Tidak terdapat bahan baku yang
tercemar dan rusak
|
Tidak
adanya bahan baku yang rusak
|
·
Memperhatikan kualitas dan
keadaan bahan yang masuk
|
·
Membeli bahan baku di pedagang
yang sudah terjamin kualitas dagangannya
·
Perbaikan penyimpanan bahan baku
|
Pemotongan
dan pembersihan timun jepang dan tomat
|
·
Adanya cemaran mikrobiologi Coliform, Staphylococcus aureus,
Salmonella sp., Escherichia coli, Campylobacter sp.
·
Kontaminasi silang dari alat dan
pekerja
|
·
Pembersihan/pencucian alat yang
dengan air bersih setiap akan digunakan
·
Pencucian daging terong dengan
air bersih mengalir
·
Peringatan terhadap pekerja agar
selalu mencuci tangan sebelum menangani bahan
|
·
Terdapat cemaran fisik dan mikro-organisme
|
·
Talenan, pisau, dan wadah yang
digunakan bersih dari pencemar
·
Sanitasi pekerja memuaskan
|
Tidak
adanya cemaran fisik dan mikro-organisme
|
·
Memperhatikan cara pemotongan,
dan pembersihan terong
·
Memperhatikan kebersihan alat
yang digunakan selama memotong dan membersihkan terong
·
Memperhatikan sanitasi pekerja
|
·
pemotongan menggunakan peralatan yang bersih
·
Pencucian dengan air bersih
mengalir
·
Memberikan aturan dan kesadaran
pekerja akan pentingnya sanitasi diri dan lingkungan
|
Perebusan
ikan tuna
|
·
Adanya ikan dengan kualitas
rendah
·
Perebusan yang belum sempurna
|
· Pemilihan
bahan yang bagus dari suplier yang bersertifikasi
· Penetapan
waktu perebusan dan karakteristik kematangan ikan tuna
|
·
Adanya cemaran mikroba pada ikan
tuna dan ada ikan tuna yang memiliki kualitas rendah
|
· Tidak
adanya bahan baku yang rusak atau berkualitas rendah
|
Tidak
adanya bahan baku yang rusak atau berkualitas rendah
|
·
Memperhatikan kualitas dan keadaan
bahan yang masuk serta waktu perebusan yang diperhatikan
|
·
Membeli bahan baku di pedagang
yang sudah terjamin kualitas dagangannya
· Perbaikan
penyimpanan bahan baku
· Memberikan
standar waktu dan besar api yang digunakan untuk proses pemasakan
|
Pencampuran
bahan-bahan salad
|
- Kontaminasi dari tangan pekerja
- Kontaminasi
dari alat (baskom dan mixer)
|
- Pekerja
harus selalu mencuci tangan
- Pembersihan
alat dengan seksama
|
·
Terdapatnya cemaran
mikro-organisme pada salad seafood
|
Meminimumkan
atau menghilangkan tingkat kontaminasi produk
|
|
· Memperhatikan
penyaji saat bekerja dengan pemasangan cctv
|
·
Mengharuskan penyaji mencuci
tangan dan alat sebelum dilakukan pencampuran
|
Tabel
6. Lembar data HACCP produk tempura terong
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Berikut
ini merupakan kesimpulan dari makalah HACCP dan Penerapannya pada Proses
Pengolahan salad seafood:
1. Penerapan
HACCP pada pengolahan salad seafood sama dengan penerapan HACCP pada produk
lainnya. Penerapan ini menggunakan 12 langkah dan 7 prinsip yang terdiri dari:
Tahap 1 : Menyusun
tim HACCP,
Tahap 2 : Mendeskripsikan
produk,
Tahap 3 : Mengidentifikasi
bahan yang digunakan beserta tahapannya,
Tahap 4 : Menyusun
diagram alir proses,
Tahap 5 : Mengkonfirmasi
diagram air proses di lapangan,
Tahap 6 : Melakukan
analisis bahaya potensial pada setiap tahapan proses (prinsip 1),
Tahap 7 : Menentukan
titik-titik pengendalian kritis (CCPs) (prinip 2),
Tahap 8 : Menentukan
batas-batas kritis untuk masing-masing CCP (prinsip 3),
Tahap 9 : Menentukan
prosedur pemantauan (prinsip 4),
Tahap 10 : Menentukan
tindakan koreksi jika terdapat penyimpangan dari batas kritis (prinsip 5),
Tahap 11 : Menentukan
prosedur verifikasi tahapan atau proses yang dilakukan (prinsip 6),
Tahap 12 : Menentukan
sistem dokumentasi dan sistem penyimpanan catatan (rekaman) (prinsip 7).
2. Terdapat
tiga titik kritis pada proses pembuatan salad seafood. Titik-titik kritis ini
adalah pembelian dan penerimaan bahan baku, pemotongan dan pembersihan timun dan tomat , serta pencampuran bahan-bahan untuk salad
itu sendiri.
3. Bahaya
yang akan timbul apabila pembuatan salad seafood tidak ditangani dengan baik
adalah diare. Hal ini dapat disebabkan oleh penanganan pada CCPs yang kurang
baik, sehingga mikroorganisme yang terdapat pada bahan-bahan yang digunakan
masih ada.
4.2 Saran
Berdasarkan
kemungkinan-kemungkinan yang mungkin terjadi pada CCPs, maka saran yang dapat
disampaikan adalah apabila akan memotong timun dan tomat sendiri, sebaiknya
dilakukan dengan cara yang benar dan memperhatikan kebersihan, baik kebersihan
alat-alat yang digunakan, sanitasi penyaji dan lingkungan, maupun kebersihan
dari timun jepang dan tomat itu sendiri. Dan pada saat memilih ikan harus selektif dengan memperhatikan kondisi
fisik ikan.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2005. Apa itu HACCP?. http://itp.fateta.ipb.ac.id/fthn3/cbt/haccp-apa.php.
Diakses pada 9 Januari 2014.
Anonim. 2005. Langkah 6 Analisis Bahaya
(Prinsip 1). http://itp.fateta.ipb.ac.id/fthn3/cbt/langkah6.php. Diakses pada
10 Januari 2014.
Anonim. 2005. Langkah 8 Penetapan Critical
Limit (Prinsip 3). http://itp.fateta.ipb.ac.id/fthn3/cbt/langkah8.php. Diakses
pada 10 Januari 2014.
Anonim. 2012. HACCP, GMP, dan SSPO.
http://thi.fp.unsri.ac.id/index.php/posting/57/40. Diakses pada 9 Januari 2014.
Anonim. 2013. Cara Sederhana Memahami
HACCP. http://foodsafety-quality.com/2013/01/06/cara-sederhana-memahami-haccp/.
Diakses pada 9 Januari 2014.
Anonim. 2013. Unsur Standar Baku Mutu
Air Bersih.
http://www.indonesian-publichealth.com/2013/08/unsur-standar-baku-mutu-air-bersih.html.
Diakses pada 10 Januari 2014.
Anonim. 2014. CCP dan Pengendaliannya.
http://comes.umy.ac.id/pluginfile.php/12094/mod_folder/content/1/Resources_ppt/pengMutu/CCP%20dan%20Pengendaliannya.ppt?forcedownload=1.
Diakses pada 10 Januari 2014.
Badan Standarisasi Nasional. 1998.
Sistem Analisa Bahaya dan Pengendalian Titik Kritis (HACCP) Serta Pendoman
Penerapannya.
http://www.fp.undip.ac.id/fapetundip/jurusan/nutrisi/download/sni_haccp.pdf.
Diakses pada 10 Januari 2014.
E-book Pangan.com. 2006. Model Rencana
HACCP (Hazard Analysis Critical Control
Point) Industri Chicken Nugget.
http://tekpan.unimus.ac.id/wp-content/uploads/2013/07/MODEL-RENCANA-HACCP-INDUSTRI-CHICKEN-NUGGET.pdf.
Diakses pada 10 Januari 2014.
Farber, Jeffrey M., Ewen C.D. Todd.
2000. Safe Handling of Foods. United
States of America: Marcel Dekker, Inc.
Mortimore, Sara., Carol Walace. 2001.
HACCP. United Kingdom: Blackwell Publishing.
Putra, Kencana. 2009. Penerapan Sistem
HACCP Pada Industri Pengolahan Pangan.
http://staff.unud.ac.id/~kencana_putra/wp-content/uploads/2009/06/penerapan-haccp.pptx.
Diakses pada 10 Januari 2014.
Sujaya, Nengah. 2009. Hazard Analysis and Critical Control Point
(HACCP) System.
http://staff.unud.ac.id/~nengah_sujaya/wp-content/uploads/2009/08/bab-5efbc89e38080haccp-sistem.doc.
Diakses pada 10 Januari 2014.
Triganesa, Indra. 2013. Langkah 6
(Prinsip 1) HACCP: Analisa Bahaya.
http://triganesafood.blogspot.com/2013/03/langkah-6-prinsip-1-analisa-bahaya.html.
Diakses pada 10 Januari 2014.
.
Comments
Post a Comment
terima kasih atas kritik dan saran menbangunnya