Popular Posts

MASSA JENIS ATAU DENSITAS

Pasar Persaingan Sempurna

Alat Pengecil Ukuran

MIKROBIOLOGI INDUSTRI - FERMENTASI

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG
Fermentasi adalah salah satu proses pengolaha bahan makanan dengan memanfaatkan mikroorganisme. Produk makanan fermentasi sudah dikenal sejak jaman kuno untuk maksud-maksud tertentu, yang antara lain untuk pengawetan, meningkatkan cita rasa, dan untuk menghasilkan produk baru. Produk makanan fermentasi tersebut misalnya tempe, tapai, bir, keju, dan yoghurt.
                                   
Fermentasi adalah proses produksi energi dalam sel dalam keadaan anaerobik (tanpa oksigen). Secara umum, fermentasi adalah salah satu bentuk respirasi anaerobik, akan tetapi, terdapat definisi yang lebih jelas yang mendefinisikan fermentasi sebagai respirasi dalam lingkungan anaerobik dengan tanpa akseptor elektron eksternal.  Gula adalah bahan yang umum dalam fermentasi. Beberapa contoh hasil fermentasi adalah etanol, asam laktat, dan hidrogen. Akan tetapi beberapa komponen lain dapat juga dihasilkan dari fermentasi seperti asam butirat dan aseton. Ragi dikenal sebagai bahan yang umum digunakan dalam fermentasi untuk menghasilkan etanol dalam bir, anggur dan minuman beralkohol lainnya. Respirasi anaerobik dalam otot mamalia selama kerja yang keras (yang tidak memiliki akseptor elektron eksternal), dapat dikategorikan sebagai bentuk fermentasi.

Fermentasi merupakan suatu cara pengolahan melalui proses memanfaatkan penguraian senyawa dari bahan-bahan protein kompleks. Protein kompleks tersebut terdapat dalam tubuh ikan yang diubah menjadi senyawa-senyawa lebih sederhana dengan bantuan enzim yang berasal dari tubuh ikan atau mikroorganisme serta berlangsung dalam keadaan yang terkontrol (Adawyah 2007). Fermentasi secara teknik dapat didefinisikan sebagai suatu proses oksidasi anaerobik atau partial anaerobik karbohidrat yang menghasilkan alkohol serta beberapa asam, namun banyak proses fermentasi yang menggunakan substrat protein dan lemak (Muchtadi dan Ayustaningwarno 2010). Fermentasi terbagi menjadi dua, yaitu fermentasi spontan dan tidak spontan (membutuhkan starter). Fermentasi spontan adalah fermentasi yang biasa dilakukan menggunakan media penyeleksi, seperti garam, asam organik, asam mineral, nasi atau pati. Media penyeleksi tersebut akan menyeleksi bakteri patogen dan menjadi media yang baik bagi tumbuh kembang bakteri selektif yang membantu jalannya fermentasi. Fermentasi tidak spontan adalah fermentasi yang dilakukan dengan penambahan kultur organisme bersama media penyeleksi sehingga proses fermentasi dapat berlangsung lebih cepat (Rahayu et al. 1992).

Hasil fermentasi diperoleh sebagai akibat metabolisme mikroba-mikroba pada suatu bahan pangan dalam keadaan anaerob. Mikroba yang melakukan fermentasi membutuhkan energi yang umumnya diperoleh dari glukosa. Dalam keadaan aerob, mikroba mengubah glukosa menjadi air, CO2 dan energi (ATP). Beberapa mikroba hanya dapat melangsungkan metabolisme dalam keadaan anaerob dan hasilnya adalah substrat yang setengah terurai. Hasil penguraiannya adalah air, CO2, energi dan sejumlah asam organik lainnya, seperti asam laktat, asam asetat, etanol serta bahan-bahan organik yang mudah menguap. Perkembangan mikroba-mikroba dalam keadaan anaerob biasanya dicirikan sebagai proses fermentasi (Muchtadi dan Ayustaningwarno 2010).

Fermentasi glukosa pada prinsipnya terdiri dari dua tahap, yaitu (1) pemecahan rantai karbon dari glukosa dan pelepasan paling sedikit dua pasang atom hidrogen, menghasilkan senyawa karbon lainnya yang lebih teroksidasi daripada glukosa, (2) senyawa yang teroksidasi tersebut direduksi kembali oleh atom hidrogen yang dilepaskan dalam tahap pertama, membentuk senyawa-senyawa lain sebagai hasil fermentasi (Fardiaz 1989).

1.2  RUMUSAN MASALAH
1.      Mikrooeganisme yang berperan pada proses fermentasi singkong?
2.      Mikrooeganisme yang berperan pada proses fermentasi kakao?
3.      Mikrooeganisme yang berperan pada proses fermentasi ikan?
4.      Mikrooeganisme yang berperan pada proses fermentasi nira kelapa?
5.      Mikrooeganisme yang berperan pada proses fermentasi beras ketan hitam dan putih?

1.3  TUJUAN
1.      Mengetahui mikrooeganisme yang berperan pada proses fermentasi singkong
2.      Mengetahui mikrooeganisme yang berperan pada proses fermentasi kakao
3.      Menegtahui mikrooeganisme yang berperan pada proses fermentasi ikan
4.      Mengetahui mikrooeganisme yang berperan pada proses fermentasi nira kelapa
5.      Mengetahui mikrooeganisme yang berperan pada proses fermentasi beras ketan hitam dan putih











BAB II
PEMBAHASAN

2.1       Peranan Mikroorganisme pada fermentasi singkong

Salah satu faktor yang mempengaruhi fermentasi adalah kadar air bahan. Pada perlakuan fermentasi kadar air bahan berkisar antara 60-70 % dengan perlakuan terbaik yaitu kadar air 70%. Hal ini dikarenakan bahwa mikroorganisme yang terkandung dalam starter asal kubis dan sawi didominasi Lactobicillus sp dan Saccharomyces sp yang optimum untuk pertumbuhan pada kadar air 70% dengan lama fermetasi 2 hari. Kedua mikroorganisme tersebut diharapkan mampu berpotensi sebagai probiotik dan mampu bertahan pada saluran pencernaan unggas pada umumnya. Saccharomyces cerevisiae biasanya digunakan untuk industri fermentasi yang mengandung immunostimulan seperti glucan, mannan oligosaccharides dan anti kanker. Saccharomyces cerevisiae dan Aspergillus oryzae merupakan jenis fungi yang banyak digunakan dalam pakan ternak. Saccharomyces cerevisiae mempunyai karakteristik khusus dalam pakan ternak karena kemampuannya memproduksi asam glutamat yang dapat meningkatkan palatability pakan. Berbeda dengan bakteri, fungi merupakan mikroorganisme yang mempunyai tingkat resisten yang tinggi dan dapat hidup pada kondisi keasaman dengan pH 1,5 di samping itu mudah dikembangbiakkan. Pemberian Saccharomyces cerevisie dapat meningkatkan daya cerna protein dan serat seperti selulosa dan hemiselulosa (Tawwab et al., 2008).

Tujuan fermentasi disamping meningkatkan daya guna bahan dan mengeliminir zat anti nutrisi juga dapat membentuk biomassa. Fermentasi kulit singkong dengan starter limbah kubis dan sawi dapat meningkatkan kandungan biomassa pada perlakuan 40% dengan meningkatnya kandungan Lactobacillus sp dan Saccaromyces sp meskipun tidak di sertai peningkatan protein kasar. Menurut Fardiaz (1989) proses dan produk fermentasi dipengaruhi oleh jenis dan jumlah starter, jenis substrat, pH, dan suhu serta lama proses pemeraman. Mulyono et al. (1989) menyatakan biomassa merupakan wujud massa dari hasil proses biologis dari mikroorganisme. Mikroorganisme mampu mengkonversi bahan menjadi protein. Namun dalam penggunaan analisis proksimat, protein asal mikrobia tidak terbaca sebagai N asal NPN sehingga tidak meningkatkan kandungan protein kasar meskipun mempunyai kandungan Lactobacillus sp dan Saccaromyces sp terbanyak. Proses fermentasi mempunyai kelebihan antara lain, tidak menimbulkan efek samping yang negatif, mudah dilakukan, relatif tidak membutuhkan peralatan khusus dan biaya relatif murah. Proses fermentasi dilakukan dengan menambahkan starter mikroorganisme (kapang atau bakteri) yang sesuai dengan substrat dan tujuan proses fermentasi. Penggunaan starter dipilih yang mempunyai kemampuan biokonversi optimal sesuai dengan tujuan fermentasi, mudah dibiakkan, mudah didapat dan murah. Tujuan fermentasi adalah menghasilkan suatu produk (bahan pakan) yang mempunyai kandungan nutrisi, tekstur dan biological availibility yang lebih baik, disamping itu juga dapat menurunkan anti nutrisinya (Winarno, 1984).

Penggunaan starter limbah kubis dan sawi sebesar 40% menunjukkan hasil terbaik untuk starter fermentasi guna meningkatkan kualitas dan utilitas kulit singkong sebagai pakan unggas dilihat dari peningkatan biomassa dan protein yang sama serta penurunan serat kasar.

2.2       Peranan Mikroorganisme pada fermentasi kakao

Proses pemeraman buah kakao berperan dalam pengurangan lapisan pulp dan pembentukan ruang-ruang kososng dalam tumpukan biji sehingga oksigen dapat masuk diantara tumpukan biji yang sedang difermentasi dan mendorong pembentukan aroma khas cokelat yang lebih baik. Proses fermentasi dimulai oleh berbagai jenis mikroba yang mulai aktif melakukan reaksi fermentasi dengan memanfaatkan senyawa dalam pulp pada permukaan biji kakao yang dibantu oleh oksigen disekelilingnya untuk membentuk asam asetat. Pemecahan etanol menjadi asam asetat merupakan reaksi eksoterm yang dapat meningkatkan suhu sampai 45 C-50 C, pada kotak fermentasi dengan tumpukan biji kakao 42 cm (Sarmidi, 1993).

Suhu tumpukan biji kakao pada awal fermentasi sama dengan suhu lingkungan yaitu 30 C, dimana pada kondisi suhu tersebut mikroba yang aktif dalam pemecahan substrat pulp adalah yeast yang dapat mengubah substrat gula menjadi etanol dan pada proses ini tidak diperlukan oksigen. Suhu di dalam kotak fermentasi (F , F , dan F ) terus meningkat secara perlahan dan mencapai suhu 40 C untuk F , 36 C untuk F , dan 43 C untuk F yang dicapai pada hari ke dua (Tabel 1), ini disebabkan timbulnya energi panas akibat pemecahan sukrosa, glukosa, fruktosa dan gula sederhana lainnya, sehingga terjadi kenaikan suhu di dalam kotak fermentasi dan pada kondisi suhu tersebut aktivitas yeast terhenti atau terjadi kematian dan terjadi pula kematian pada keping biji. Kematian yeast dan keping biji kakao merupakan awal dimulainya proses fermentasi tahap ke dua (hari kedua), dimana dilakukan pembalikan sehingga oksigen yang semula terhalang lapisan pulp, dapat masuk ke dalam tumpukan biji dalam jumlah yang lebihbanyak. Kondisi aerob ini dimanfaatkan olehmikroba berupa bakteri asam asetat(Acetobakter) untuk mengubah alcohol menjadi asam asetat. Reaksi pembentukanasam asetat mempunyai sifat lebiheksotermis daripada reaksi pembentukanalkohol sehingga suhu tumpukan biji kakaopada ketiga kotak fermentasi (F , F , dan F )setelah pembalikan cenderung meningkat. Meskipun secara umum F , F , dan Fmenunjukkan kecenderungan peningkatansuhu di dalam kotak fermentasi setelahpembalikan (hari kedua) selama prtosesfermentasi, namun untuk F lebih cepatmencapai suhu optimum yaitu suhu 48 C-49 C dibandingkan dengan F dan F yangpencapaian suhu optimumnya pada harikeenam. Tercapainya suhu optimum F padahari keempat, disebabkan adanya activator yang ditambahkan pada F yang berfungsisebagai nutrien bagi mikroba untuk memacukerja mikroba untuk mempercepat prosespenguraian alkohol menjadi asam asetatyang bersifat eksotermis sehingga terjadikenaikan suhu, menyebabkan proseskematian pada keping biji kakao lebih cepatterjadi pada F .Suhu optimum untuk F dicapai padafermentasi hari ke empat sebesar 48 C-49 C, ini sesuai bahwa fermentasi yang terjadi secaraoptimal pada suhu 45 C-50 C. Kondisidemikian memperlihatkan bahwa aktivitasreaksi dan suhu fermentasi terlihat mulaikonstan setelah proses fermentasiberlangsung 72 jam atau tiga hari.Hal ini sesuai yang dikemukakan olehSukrisno (2004), bahwa suhu tumpukan bijikakao setelah pembalikan (hari ke dua)berangsur naik mencapai 45-49 C setelahhari ketiga, dan pada hari berikutnya suhu bijicenderung stabil dan bahkan menurunsampai hari kelima. Menurut Mulato,(2007) suhu fermentasi terlihat mulai konstansetelah proses fermentasi berlangsung 72 jam atau tiga hari, ini menunjukkan suatu indikasi bahwa waktu fermentasi dapat dipersingkat menjadi empat hari tanpa memberikan pengaruh terhadap mutu dan dikaitkan dengan pencapaian indeks fermentasi yang diperoleh ≥1.

2.3       Peranan Mikroorganisme pada Fermentasi Rusip dari ikan teri

Salah satu pengawetan tradisional ikan yang banyak dilakukan masyarakat adalah fermentasi. Beberapa produk awetan ikan fermentasi tersebut diantaranya adalah pakasam dan wadi dari daerah Banjarmasin, peda dan terasi dari daerah Yogyakarta, Jawa dan Lombok, dan pindang dari daerah Jawa, kecap ikan dan bekasem dari daerah Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, bakasang dari daerah Timur Indonesia. Ikan fermentasi lainnya yang belum banyak dikenal dan dilaporkan peneliti adalah rusip.

Rusip merupakan produk fermentasi asal Bangka dan Lampung. Rusip dibuat dari ikan yang diberi garam antara 10 – 25%dan beras atau gula aren sekitar 10% yang kemudian difermentasi selama kurang lebih dua minggu secara anaerob. Penambahan garam lebih dari 13% pada substrat kaya protein seperti ikan menghasilkan hidrolisis protein yang terkontrol yang mencegah pembusukkan, menghasilkan pasta serta asam amino dan peptida yang beraroma ‘meaty’ dan ‘savory’. Umumnya ikan yang dijadikan bahan baku rusipadalah ikan rucah yang berukuran kecil, misalnya ikan teri (Stolephorus sp).

Proses pengawetan ikan secara fermentasi akan melibatkan proses enzimatis kimiawi dan mikrobial selama proses fermentasi yang akhirnya menentukan karakteristik mikrobiologi dan kimia ikan fermentasi. Penelitian yang telah dilakukan pada ikan rusip dari daerah bangka menunjukkan bahwa bakteri asam laktat yang berperan merupakan genus Lactobacillus, Streptococcus dan Leuconostoc. Rusip juga dilaporkan mengandung senyawa etil asetat, ber-pH relatif rendah, total asam rendah, kadar garam yang relatif tinggi dan kadar air yang tinggi.

2.4       Peranan Mikroorganisme pada Fermentasi nira kelapa

Kadar Alkohol Hasil Destilasi
Dalam penelitian ini pembuatan alcohol dilakukan dengan fermentasi alami pada nira kelapa selama 2 hari. Nira kelapa memiliki kadar gula total sekitar 12-18 persen sedangkan nira sorgum memiliki kadar gula toal 11-16 persen dan nira tebu 9-17 persen (Komarayati dan Gusmailina, 2010).  Proses fermentasi nira kelapa bersifat alami karena nira kelapa sudah mengandung khamir liar yang sangat aktif, dan fermentasi nira kelapa melibatkan penggunaan Saccharomyces cereviceae (Rahayu dan Kuswanto,1988). Pengujian terhadap kadar alkohol hasil destilasi bertingkat disajikan pada Tabel 1. Hubungan antara kadar alkohol dengan frekuensi destilasi disajikan pada Gambar 2.  Pada Tabel 1 tampak bahwa kadar alkohol dari nira kelapa setelah fermentasi adalah rata-rata sebesar 6,36%. Kadar alkohol ini sesuai dengan kisaran prosentase beberapa penelitian seperti yang diperoleh oleh Rahayu dan Kuswanto (1988), bahwa kadar alcohol yang terdapat pada produk yang dihasilkan dari fermentasi berkisar antara 3-10 persen tergantung dari jenis produk yang difermentasi.   Anonim (2003) menyatakan bahwa kadar alkohol untuk tuak kelapa berkisar antara 5-8 persen. Pada Gambar 2 terlihat bahwa kadar alkohol rata-rata meningkat dengan semakin seringnya destilasi dilakukan. Peningkatan drastis terjadi pada destilasi pertama sampai destilasi ke enam, yang diikuti dengan peningkatan yang semakin kecil sampai destilasi ke 14. Pada destilasi pertama terjadi peningkatan sebesar 11,47%, dan pada destilasi ke dua terjadi peningkatan sebesar 17,77%.  Namun pada destilasi ke tiga sampai ke delapan terjadi peningkatan kadar alkohol yang semakin menurun yaitu masing-masing sebesar 15,83%, 12,30%, 11,30%, 8,88%, 2,50% dan 2,40%. Pada destilasi ke-9 hingga ke 14 peningkatan kadar alkohol sangat kecil bahkan cenderung konstan, yaitu peningkatan kadar alkoholnya tidak lebih besar dari 1,00%. Hal ini disebabkan karena semakin sering destilasi dilakukan semakin sedikit komponen air dalam bahan yang akan didestilasi atau tidak adanya lagi komponen untuk dipisahkan lebih lanjut. Menurut Yuliastuti (2002), jika suatu zat cair yang telah murni didestilasi akan mempunyai kuantitas yang sama dan kesetimbangan akan dicapai.






Tabel 1. Kadar Alkohol Tuak pada Beberapa Tahapan Destilasi
Destilasi Ke-
ulangan 1%
Ulangan 2%
Ulangan 3%
Rata-rata %
0
6,40
6,00
6,70
6,36
1
17,70
17,60
18,20
17,83
2
34,50
35,00
37,30
35,60
3
49,60
52,00
52,70
51,43
4
60,50
65,00
65,70
63,73
5
74,30
75,00
76,00
75,10
6
83,00
85,30
83,00
83,76
7
85,50
87,00
86,30
86,26
8
87,50
89,00
89,00
88,50
9
88,00
90,00
90,00
89,30
10
90,00
90,50
90,50
90,30
11
90,00
91,00
91,00
91,00
12
91,00
91,00
91,00
91,00
13
91,50
91,50
92,00
91,60
14
92,00
92,00
92,50
92,17

Destilasi terus dilakukan hingga destilasi ke-14,walaupun pada destilasi ke-10 kadar alkohol sudah memenuhi standar ASTM untuk bahan bakar cair yaitu kadar alkoholnya lebih besar atau sama dengan 90%. Hal ini dilakukan karena pada destilasi ke-10, kadar etanol yang diperoleh belum memenuhi SNI (Standar Nasional Indonesia) untuk bioetanol yaitu kadar etanolnya harus lebih besar atau sama dengan 94%, sehingga destilasi tetap diteruskan hingga kadar etanol yang diperoleh memenuhi SNI untuk bioetanol.

Rendemen  Bioetanol
Rendemen bioetanol yang dihasilkan dari tuak kelapa disajikan pada Tabel 2. Pada Tabel 2 terlihat bahwa rata-rata rendemen bioetanol yang dihasilkan dari destilasi tuak kelapa adalah 4,83%. Rendemen bioetanol yang dihasilkan dari destilasi tuak kelapa pada penelitian ini setara dengan rendemen bioethanol dari sampah organik yaitu sebesar 4,50 – 7,70% (Mahyuda, 2006). Namun, lebih kecil dibandingkan dengan rendemen bioetanol yang dihasilkan dari bahan nabati lainnya seperti dari tongkol jagung yang menghasilkan rendemen sebesar 14,22% (Anonim, 2006a), tetes tebu  memiliki rendemen sebesar 25,00%, dan ubi singkong memiliki rendemen sebesar 16,66%.




Tabel 2. Rendemen Bioetanol dari Tuak Kelapa Setelah Didestilasi Sebanyak 14 kali
Ulangan
Volume awal (ml)
Volume akhir (ml)
Rendemen (%)
1
4000
200
5,00
2
4000
190
4,70
3
4000
190
4,70
Rata-rata

4,83

Kualitas Bioetanol

a) Kadar Etanol
Pada Tabel 3 terlihat bahwa kadar etanol rata-rata dari bioetanol yang dihasilkan dari 14 kali destilasi  adalah sebesar 95,13%.  Kadar etanol yang dihasilkan pada penelitian ini,  lebih besar dari kadar etanol yang diperoleh dari sampah organik. Kadar etanol sampah organik setelah didestilasi sebanyak 18 kali  adalah sebesar 92,95% (Mahyuda, 2006). Hal ini menunjukkan bahwa kandungan kadar etanol nira kelapa memiliki potensi yang tidak jauh berbeda untuk dijadikan bioetanol dengan sampah organik.

b) Densitas
Berdasarkan Tabel 3, dapat dilihat bahwa besar densitas rata-rata yang dihasilkan adalah sebesar 0,766 kg/l. Hal ini menunjukkan bahwa densitas bioetanol yang dihasilkan dari nira kelapa tidak jauh berbeda dari densitas bioetanol yang dihasilkan dari bahan lain, yaitu berkisar antara 0,730-0,820 kg/l (Irawan, 2007).
Densitas bahan bakar diduga akan sangat berpengaruh terhadap laju konsumsi bahan bakar. Semakin besar densitasnya diprediksi akan semakin meningkatkan konsumsi bahan bakar atau semakin boros. Densitas yang besar akan menghasilkan  nilai
kalor yang kecil sehingga menyebabkan kualitasnya rendah (Irawan, 2007). Densitas dipengaruhi oleh temperatur, makin tinggi temperaturnya maka densitas akan lebih rendah dan sebaliknya semakin rendah temperaturnya maka densitasnya akan semakin naik sehingga kualitasnya semakin jelek (Fembriyono,2003).

c) Specific gravity
Specific gravity adalah densitas bahan bakar dibagi dengan densitas air pada temperatur yang sama.  Specific gravity bioetanol yang dihasilkan pada penelitian ini adalah rata-rata sebesar 0,786. Hal ini menunjukkan bahwa bioetanol dari nira kelapa memiliki kualitas yang sama besarnya dengan produk bioetanol lainnya, seperti bioetanol dari sampah organik yang memiliki nilai specific gravity berkisar antara 0,760-0,870 (Mahyuda, 2006). Menurut Fembriyono (2003), specific gravity yang lebih tinggi akan menyebabkan bahan bakar sulit menyala, sehingga kualitas dari bahan bakar tersebut rendah.

d) API Gravity dan Nilai kalor
Tabel 3 menunjukkan bahwa bioetanol nira kelapa memiliki nilai API Gravity rata-rata sebesar 48,61 dengan nilai kalor rata-rata sebesar 11.221,94 kkal/kg. Nilai  API Gravity mempunyai hubungan yang sangat erat dengan nilai kalor. Nilai kalor berbanding lurus dengan nilai API Gravity. Semakin besar nilai API Gravitynya akan menyebabkan nilai kalo yang tinggi pula.  Nilai kalor yang diperoleh dari penelitian ini lebih tinggi dari nilai kalor yang dihasilkan dari sampah organik dan bahan bakar cair lainnya. Nilai kalor dari bioetanol sampah organic berkisar antara 10.000 -11.000 kkal/kg, sedangkan nilai kalor dari bahan bakar cair pada umunya berkisar antara 10.160-11.000 kkal/kg. Nilai kalor yang lebih besar akan menyebabkan lebih mudah terbakar sehingga kualitasnya lebih baik. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas bioetanol nira kelapa lebih baik dari bioetanol sampah organik, maupun bahan bakar cair pada umumnya.

Tabel 3. Kualitas Bioetanol dari Tuak Kelapa
No
Parameter Kualitas
Ulangan 1
Ulangan 2
Ulangan 3
Rata-rata
1
Kadar Alkohol (%)
92,00
92,00
92,50
92,17
2
Kadar Ethanol (%)
95,00
94,30
96,10
95,13
3
Densitas (Kg/l)
0,774
0,782
0,745
0,766
4
Specific Gravity
0,793
0,801
0,764
0,786
5
API Gravity
47,03
45,11
53,71
48,61
6
Nilai Kalor (kkal/kg)
11.186,67
11.143,15
11.335,15
11.221,94


2.5 Peranan mikroorganisme pada fermentasi beras ketan hitam dan putih

Variasi Wadah Fermentasi Terhadap Kadar  Etanol
dalam Tapai Ketan Putih
Dari hasil penentuan kadar etanol dalam tapai ketan putih dengan fermentasi menggunakan 3 macam pembungkus yang berbeda ternyata terdapat perbedaan kadar etanol yang cukup signifikan, kadar  etanol yang paling tinggi diperoleh pada penggunaan daun pisang sebagai wadah fermentasi, kemudian diikuti penggunaan gelas dan yang yang paling kecil adalah pada penggunaan wadah dari plastik, hal ini disebabkan karena pembungkus atau wadah dari daun pisang akan memberikan suasana yang lebih cocok bagi mikrobia fermentator untuk berperan aktif dalam proses fermentasi karbohidrat menjadi etanol. Disamping itu dengan pembungkus daun pisang yang relatif tidak begitu rapat dibanding pembungkus plastik dan gelas lebih memungkinkan bagi mikrobia azeto bacter yang merupakan mikrobia aerob untuk berperan maksimal dalam proses pengubahan etanol menjadi asam asetat.



Variasi Wadah Fermentasi Terhadap Kadar  Etanol
dalam Tapai  Ketan Hitam 
Hasil penentuan kadar etanol dalam tapai hasil fermentasi 500 gram beras ketan hitam dengan menggunakan tiga macam pembungkus yang berbeda yaitu daun pisang, plastik dan gelas. Kadar  etanol yang paling tinggi sebagaimana pada beras ketan putih, diperoleh pada penggunaan pembungkus daun pisang kemudian diikuti dengan penggunaan gelas dan plastik. Namun demikian perbedaannya tidak terlalu besar sebagaimana pada tapai ketan putih, dengan wadah yang sama ternyata kadar  etanol dalam tapai dari beras ketan putih lebih banyak jika dibandingkan dengan kadar etanol dalam tapai dari beras ketan hitam. Hal ini disebabkan karena struktur amilosa dari beras ketan putih lebih mudah dicerna oleh mikrobia fermentator dibanding ketan hitam, sehingga enzim amilase lebih mudah melakukan pemecahan karbohidrat menjadi  etanol dan akibatnya dengan waktu fermentasi yang sama, kadar  etanol dalam tapai dari beras ketan putih lebih besar dibanding dari ketan hitam.
























BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Fermentasi adalah salah satu proses pengolaha bahan makanan dengan memanfaatkan mikroorganisme. Produk makanan fermentasi sudah dikenal sejak jaman kuno untuk maksud-maksud tertentu, yang antara lain untuk pengawetan, meningkatkan cita rasa, dan untuk menghasilkan produk baru. Produk makanan fermentasi tersebut misalnya tempe, tapai, bir, keju, dan yoghurt.
Salah satu faktor yang mempengaruhi fermentasi adalah kadar air bahan. Proses pemeraman buah kakao berperan dalam pengurangan lapisan pulp dan pembentukan ruang-ruang kososng dalam tumpukan biji sehingga oksigen dapat masuk diantara tumpukan biji yang sedang difermentasi dan mendorong pembentukan aroma khas cokelat yang lebih baik. Proses fermentasi dimulai oleh berbagai jenis mikroba yang mulai aktif melakukan reaksi fermentasi. Rusip merupakan produk fermentasi asal Bangka dan Lampung. Rusip dibuat dari ikan yang diberi garam antara 10 – 25%dan beras atau gula aren sekitar 10% yang kemudian difermentasi selama kurang lebih dua minggu secara anaerob. Nira kelapa memiliki kadar gula total sekitar 12-18 persen sedangkan nira sorgum memiliki kadar gula toal 11-16 persen dan nira tebu 9-17 persen (Komarayati dan Gusmailina, 2010).  Proses fermentasi nira kelapa bersifat alami karena nira kelapa sudah mengandung khamir liar yang sangat aktif, dan fermentasi nira kelapa melibatkan penggunaan Saccharomyces cereviceae. kadar etanol dalam tapai ketan putih dengan fermentasi menggunakan 3 macam pembungkus yang berbeda ternyata terdapat perbedaan kadar etanol yang cukup signifikan, kadar  etanol yang paling tinggi diperoleh pada penggunaan daun pisang sebagai wadah fermentasi, kemudian diikuti penggunaan gelas dan yang yang paling kecil adalah pada penggunaan wadah dari plastik, hal ini disebabkan karena pembungkus atau wadah dari daun pisang akan memberikan suasana yang lebih cocok bagi mikrobia fermentator untuk berperan aktif dalam proses fermentasi karbohidrat menjadi etanol.

DAFTAR PUSTAKA

1.      Kakao:isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/31082532.pdf
5.      singkong:




Comments