BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Wadah
logam dalam bentuk kotak atau cangkir emas digunakan pada zaman kuno sebagai
lambang prestise. Teknik pengalengan makanan sebagai upaya zaman pemerintahan
Napoleon Bonaparte yaitu dari hasil penemuan Nicholas Appert. Aspek legislasi
pengalengan makanan ditetapkan tahun 1810 yang dikenal dengan ”l’art de
conserver”. Tahun 1810 Peter Duran dari Ingris menciptakan kaleng. Tahun 1817
William Underwood (imigran asal Inggris) mendirikan industri pengalengan
makanan yang pertama di Amerika Serikat. Kapten Edward Perry yang melakukan
ekspedisi ke kutub utara pada tahun 1819, 1824 dan 1826 telah menggunakan
makanan kaleng sebagai logistik mereka. Alumunium foil (alufo) diproduksi
secara komersial pertama kali pada tahun 1910. Kaleng aluminium untuk kemasan
bir digunakan pertama sekali tahun 1965.
Awalnya
pembuatan kaleng dilakukan secara manual yaitu hanya dihasilkan 5-6 kaleng per
jam. Akhir tahun 1900 ditemukan cara pembuatan kaleng termasuk cara pengisian
dan penutupannya yang lebih maju dan bersih. Kaleng alumunium awalnya diperkenalkan
sebagai wadah pelumas. Tahun 1866 ditemukan alat pembuka kaleng yang berupa
kunci pemutar untuk menggantikan paku atau pahat. Tahun 1875 ditemukan alat
pembuka kaleng dengan prinsip ungkit. Tahun 1889 ditemukan kaleng-kaleng aerosol,
tetapi saat ini kaleng aerosol banyak ditentang karena dapat merusak lapisan
ozon
1.2 Rumusan
Masalah
- Kemasan Logam apa saja yang sering
digunakan dalam industri, dan untuk produk apa saja kemasan tersebut?
BAB II
ISI
A.
KARAKTERISTIK
LOGAM
Karakteristik
bahan logam dibandingkan bahan non logam dapat dilihat pada Tabel 6. 1.
Keuntungan wadah kaleng untuk makanan dan minuman :
- mempunyai
kekuatan mekanik yang tinggi
- barrier yang
baik terhadap gas, uap air, jasad renik, debu dan kotoran sehingga
cocok untuk
kemasan hermetis.
- Toksisitasnya
relatif rendah meskipun ada kemungkinan migrasi unsur logam
ke bahan yang
dikemas.
- Tahan terhadap
perubahan-perubahan atau keadaan suhu yang ekstrim
- Mempunyai
permukaan yang ideal untuk dekorasi dan pelabelan.
Tabel 6. 1.
Karakteristik logam dibandingkan bahan non logam
Logam Non
Logam
a. Penghantar
(konduktor) panas dan Konduktor
yang buruk, isolator yang
listrik yang
baik baik
b. Dapat ditempa
atau dibengkokkan Rapuh dan
tidak dapat ditempa
dalam keadaan
padat
c. Mempunyai
kilap logam Kilap
non logam
d. Tidak tembus
pandang Beberapa
jenis bersifat tembus
pandang
(translusid)
e. Densitas
tinggi Densitas
rendah
f. Berbentuk
padat (kecuali merkuri) Berbentuk
padat, cair atau gas
Sumber : Syarief
et al., 1989.
Bentuk kemasan
dari bahan logam yang digunakan untuk bahan pangan yaitu :
- bentuk kaleng
tinplate
- kaleng
alumunium
- bentuk
alumunium foil
Kaleng tinplate
banyak digunakan dalam industri makanan dan komponen utama untuk tutup botol
atau jars. Kaleng alumunium banyak digunakan dalam industri minuman. Alumunium
foil banyak digunakan sebagai bagian dari kemasan bentuk kantong
bersama-sama/dilaminasi dengan berbagai jenis plastik, dan banyak digunakan
oleh industri makanan ringan, susu bubuk dan sebagainya.
B. KALENG PLAT
TIMAH DAN BAJA BEBAS TIMAH
Plat
timah (tin plate) adalah bahan yang digunakan untuk membuat kemasan kaleng,
terdiri dari lembaran baja dengan pelapis timah. Plat timah ini berupa lembaran
atau gulungan baja berkarbon rendah dengan ketebalan 0.15-0.5 mm dan kandungan
timah putih berkisar antara 1.0-1.25% dari berat kaleng. Digunakan untuk produk
yang mengalami sterilisasi.
1.
Pembuatan Tin Plate
Wadah kaleng
pada awalnya terbuat dari plat timah (tin plate) yang terdiri dari :
lembaran
dasar baja dilapisi timah putih (Sn) dengan cara pencelupan dalam timah cair
panas (hot dipping) atau dengan
elektrolisa. Pelapisan kaleng dengan cara hot dipped merupakan cara yang lama
dimana lembaran baja dicelupkan ke dalam cairan timah panas, sehingga diperoleh
lapisan timah yang terlalu tebal dan tidak menarik. Pelapisan dengan cara
elektrolisa adalah cara yang lebih moderen yaitu pelapisan dengan menggunakan
listrik galvanis sehingga dihasilkan lapisan timah yang lebih tipis dan rata. Pembuatan
kaleng plat timah secara tradisional dilakukan dengan memukul besi hingga
gepeng dan tipis kemudian direndam dalam larutan asam hasil fermentasi, sehingga
prosesnya disebut dengan pickling. Pada pembuatan kaleng plat timah
secara mekanis , pengasaman dilakukan dengan menggunakan asam sulfat, sedangkan
proses pelembaran dengan menggunakan tekanan tinggi. Lembaran plat timah ini
dapat dibuat menjadi kaleng yang berbentuk hollow (berlubang), atau flat
can yaitu kaleng yang digepengkan baru kemudian dibentuk kembali.
2.
Jenis-Jenis Kaleng Plat Timah
Di
dalam perkembangannya ada beberapa jenis kaleng yaitu :
- kaleng baja
bebas timah (tin-free steel)
- kaleng 3 lapis
(three pieces cans)
- kaleng lapis
ganda (two pieces cans)
Plat
timah atau tin plate adalah lembaran atau gulungan baja berkarbon rendah
dengan ketebalan 0.15 – 0.5 mm. Kandungan timah putih pada kaleng plat timah berkisar
antara 1.0-1,25% dari berat kaleng, seperti terlihat pada Gambar 6.1 . Kandungan
timah putih ini bisanya dinyatakan dengan TP yang diikuti dengan angka yang
menunjukkan banyaknya timah putih, misalnya pada TP25 mengandung timah putih
sebanyak 2.8 g/m2, TP50 = 5.6 g/m2, TP75 = 8.4 g/m2 dan TP100 =11.2 g/m2. Kaleng
bebas timah (tin-free-steel=TFS) adalah lembaran baja yang tidak
dilapisi timah putih.
Jenis
TFS yang paling banyak digunakan untuk pengalengan makanan adalah jenis Tin
Free Steel Chrome Type (TFS-CT), yaitu lembaran baja yang dilapisi kromium
secara elektris, sehingga terbentuk khromium oksida di seluruh permukaannya.
Jenis ini memiliki beberapa keunggulan, yaitu harganya murah karena tidak
menggunakan timah putih, dan daya adhesinya terhadap bahan organik baik. Tetapi
kelemahannya peluang untuk berkarat lebih tinggi, sehingga harus diberi lapisan
pada kedua belah permukaannya (permukaan dalam dan luar).
Berdasarkan
komposisi lapisan kaleng, cara melapisi dan komposisi baja penyusun kaleng,
maka kaleng dibedakan atas beberapa tipe seperti terlihat pada Tabel 6.2, dan
Tabel 6.3.
Kaleng Tipe L = Low
Metalloids adalah kaleng yang mempunyai daya korosif rendah, sehingga dapat
digunakan untuk makanan yang berasam tingi. Kaleng tipe MR (Medium Residual)
dan tipe MC (Medium Metalloids Cold Reduces) adalah kaleng yang mempunyai
daya korosif rendah sehingga digunakan untuk makanan berasam rendah. Kaleng
dengan lapisan timah yang tebal digunakan untuk makanan dengan daya korosif
yang tinggi.
Kemasan
plat timah mempunyai daya tahan terhadap karat yang rendah, tetapi daya
tahannya terhadap reaksi-reaksi dengan bahan pangan yang dikemasnya lebih lambat
dibanding baja. Kaleng dengan lapisan timah yang tebal digunakan untuk mengalengkan
bahan makanan yang mempunyai daya korosif lebih tinggi.
Dalam
memilih kemasan kaleng untuk pengemasan bahan pangan, maka perlu dipertimbangkan
hal-hal sebagai berikut :
-
sifat korosif kaleng
-
sifat keasaman makanan
-
kekuatan kaleng (daya tahan terhadap tekanan dalam retort atau keadaan
vakum)
-
Ukuran kaleng
Kelebihan
dari tin plate adalah mengkilap, kuat, tahan karat dan dapat disolder. Tetapi
kekurangannya adalah terjadi penyimpangan warna permukaan tin plate karena bereaksi
dengan makanan yang mengandung sulfur, yang disebut dengan sulphur staining/feathering
(terbentuknya noda sulfur pada permukaan tin plate). Kekurangan ini
dapat diatasi dengan proses lacquering dan pasivitasi yaitu
melapisi tin plate dengan lapisan krom setebal 1-2 mg/m2. Proses lacquering
dan pasivitasi dapat memperpanjang daya simpan tin plate dan
mencegah terjadinya sulphur staining. Pelapisan tin plate dengan
pelumas seperti minyak biji kapas , minyak sintetisn(parafin oil) dan dibutil
sebakat aman untuk kesehatan manusia. Lapisan tipis dari minyak diserap oleh film
lacquer. Sebagian besar proses pasivitasi ilakukan secara cathodis
dichromate, dimana lapisan dalam lebih tebal dari lapisan luar.
Pelapisan
dengan elektrolit diberi kode D, misalnya D11.2/5.6 menunjukkan sebelah dalam
dilapisi 11.2 g Sn/m2 dan lapisan luar 5.6 g Sn/m2. Tin plate juga dapat
dibedakan atas beberapa tipe, berdasarkan perlakuan pelapisan yang diberikan,
yaitu :
- CDC = Cathodic
Dichromate Chemical Treatment
- SDC = Sodium
Dichromate Chemical Treatment
- GP = General
Purpose Lacquer
- Sr = Lacquer
with sulphur resisting properties.
Masalah
dalam penggunaan kemasan plast timah (tin plate) sebagai bahan kemasan
pangan adalah terjadinya migrasi (perpindahan) logam berat yaitu Pb dan Sn dari
kaleng ke makanan yang dikemas. Batas maksimum Sn yang diperbolehkan dalam
bahan pangan adalah 200 mg/kg makanan.
3.
Coating (Lapisan Enamel)
Untuk mencegah
terjadinya kontak langsung antara kaleng pengemas dengan bahan pangan yang
dikemas, maka kaleng plat timah harus diberi pelapis yang disebut dengan
enamel. Interaksi antara bahan pangan dengan kemasan ini dapat menimbulkan
korosi yang menghasilkan warna serta flavor yang tidak diinginkan, misalnya :
- Terbentuknya warna hitam yang
disebabkan oleh reaksi antara besi atau timah dengan sulfida pada makanan
berasam rendah (berprotein tingg).
- Pemucatan pigmen merah dari
sayuran/buah-buahan seperti bit atau anggur karena reaksi dengan baja, timah
atau aluminium.
Untuk mencegah
terjadinya korosi ini maka kaleng lapisan enamel. Jenis-jenis lapisan enamel
yang digunakan adalah :
1.
Epoksi-fenolik, merupakan pelapis yang banyak
digunakan, bersifat tahan asam serta mempunyai resistensi dan fleksibilitas
terhadap panas yang baik. Digunakan untuk pengalengan ikan, daging, buah, pasta
dan produk sayuran. Pada pelapisan dengan epoksi fenolik juga dapat ditambahkan
zink oksida atau logam aluminium bubuk untuk mencegah sulphur staining pada
produk daging, ikan dan sayuran.
2.
Komponen Vinil, yang mempunyai daya adhesi dan
fleksibilitas tinggi, tahan terhadap asam dan basa, tapi tidak tahan terhadap
suhu tinggi pada proses sterilisasi. Digunakan untuk produk bir, juice buah dan
minuman berkarbonasi.
3.
Phenolic lacquers, merupakan pelapis yang tahan
asam dan komponen sulfida, digunakan untuk kaleng kemasan pada produk daging,
ikan, buah, sop dan sayuran.
4.
Butadiene lacquers, dapat mencegah kehilangan warna
dan mempunyai resistensi terhadap panas yang tinggi. Digunakan untuk bir dan
minuman ringan.
5.
Acrylic lacquers, merupakan pelapis yang berwarna
putih, digunakan sebagai pelapis internal dan eksternal pada produk buah.
Pelapis ini lebih mahal dibanding pelapis lainnya dan dapat menimbulkan masalah
pada beberapa produk.
6.
Epoxy amine lacquers, adalah pelapis
yang mempunyai daya adhesi yang baik, tahan terhadap panas dan abrasi,
fleksibel dan tidak menimbulkan off-flavor, tetapi harganya mahal.
Digunakan untuk bir, minuman ringan, produk hasil ternak, ikan dan daging.
7.
Alkyd lacquers, adalah pelapis yang murah dan
digunakan sebagai pelapis luar, tidak digunakan sebagai pelapis dalam karena
dapat menimbulkan masalah offflavor.
8.
Oleoresinous lacquers, digunakan
untuk berbagai tujuan, harganya murah, pelapis dengan warna keemasan. Digunakan
untuk bir, minuman sari buah dan sayuran.
Pelapis
ini dapat digabung dengan zink oksida (C’enamel) yang digunakan untuk kacang-kacangan,
sayur, sop, daging dan bahan pangan lain yang mengandung sulfur.
4.
Pembuatan Kemasan Kaleng dari Tin Plate
Secara umum
proses pembuatan kaleng terdiri dari printing/coating, slitting/shearing,
pressing dan assembly. Printing dilakukan dengan tujuan untuk pembuatan
: dekorasi dan melindungi kaleng dari karat atau untuk mencegah reaksi antara
tinplate dengan bahan yang dikemas.
Slitting /
Shearing adalah
proses memotong tinplate menjadi body blank atau strip yang digunakan untuk
pembuatan komponen-komponen kaleng sesuai kebutuhan. Pressing adalah proses
pembuatan komponen-komponen kaleng seperti tutup atas / bawah atau body kaleng
pada two pieces. Jumlah proses pembuatan komponen tergantung dari bentuk
kaleng yang akan dibuat. Pada pembuatan tutup latex sebagai bahan pengisi
sambungan body dengan tutup membuat kaleng kedap udara.
Assembly adalah proses
menyatukan badan dan tutup kaleng dengan menggunakan mesin-mesin soudronic,
soldering atau mesin lain. Pembuatan kemasan kaleng dilakukan dengan menyambung
lembaran plat timah hingga membentuk kaleng . Proses penyambungan dilakukan
dengan cara soldering (patri), cementing dan welding.
Soldering adalah
cara perekatan dengan panas pada metal solid (tin plate) dengan metalic
boundary agent dengan menggunakan fluks pada suhu 45oC. Cementing adalah
perekatan dengan menggunakan bahan perekat berupa poliamida dan polyester.
Teknik cementing tidak tahan sterilisasi dan biasanya digunakan untuk kaleng
–kaleng minyak goreng.
a.
Pembuatan Kemasan kaleng Secara Konvensional
(Three-piece-cans)
Kaleng tiga
lembar (Three- piece-cans) adalah kaleng yang mempunyai satu lingkaran
dan dua tutup. Bahan baku kaleng tiga lembar ini adalah plat timah (TP) atau
baja bebas timah (TFS). Urutan pembuatan kemasan kaleng dari plat timah secar konvensional
adalah sebagai berikut (Syarief et al., 1989) :
- Pemberian
lapisan enamel pada lembar plat timah
- Pencetakan
disain grafis
- Pemotongan lembaran plat timah menjadi
body blank yang disebut proses slitting
- Pembentukan
badan kaleng (body making)
- Pembentukan
leher kaleng (necking) untuk beberapa jenis kaleng
- Pembentukan body
hood (flanging) untuk semua bentuk kaleng.
- Pembersihan permukaan dalam kaleng
dengan menggunakan sikat dan hembusan udara.
- Pelapisan enamel kedua (enamel ganda),
yaitu untuk kaleng kemasan minuman berkarbonasi.
Proses pelapisan enamel kedua ini dilakukan dengan cara pengabutan bahan
pelapis (sprayed coating).
- Pemasangan
tutup kaleng dengan mesin seamer.
b.
Pembuatan kaleng Dua Lembar (Two
piece-cans)
Kaleng dua
lembar adalah kaleng yang dibuat dari bahan baku plat timah, aluminium atau
lakur (alloy). Pembuatan kaleng dua lembar dapat dilakukan dengan dua cara,
yaitu proses draw-and-wall-iron (DWI) dan proses draw-and-redraw (DRD).
Proses DWI menghasilkan kaleng dengan dinding yang tipis dan digunakan untuk memproduksi
kaleng aluminium untuk minuman berkarbonasi dimana bahan pengemas mendapat
tekanan setelah pengisian. Kaleng DRD mempunyai dinding yang lebih tebal dan
dapat digunakan untuk mengemas bahan pangan yang disterilisasi dimana
diperlukan adanya ruang vakum (head-space) pada kaleng selama pendinginan.
1. Kaleng DWI (Draw
and Wall Iron)
Urutan proses
pembuatan kaleng DWI dapat dilihat pada Gambar 6.5, dan dapat dijelaskan
sebagai berikut :
- Bahan pembuat kaleng adalah plat timah
dan aluminium dengan ketebalan masing-masing 0.3 dan 0.42 mm.
- Sekeliling lembaran ditekan ke dalam
berbentuk mangkuk atau lekukan untuk memperoleh lekukan yang dangkal.
- Lekukan dilewatkan berturut-turut pada
lingkaran logam (annular rings) untuk mengurangi ketebalan dinding
lekukan sampai kira-kira 1/3 dari ketebalan awal dan tingginya tiga kali tinggi
semula. Proses ini disebut dengan Wall Ironed.
- Setelah bentuk dasar terbentuk, maka
kaleng dipotong sesuai dengan ukuran yang diinginkan.
- Penutupan dengan cara double
seaming setelah pengisian. Sistem pelapisan bagian dalam dilakukan dengan
cara spray dan oven. Jenis enamel yang digunakan tergantung dari bahan
pembuat kaleng dan produk yang akan dikemas, dan biasanya berupa epoksi
fenolik, epoksiamin dan senyawa-senyawa vinil.
Modifikasi dari
proses DWI dapat dilakukan dengan cara :
o Memperkecil
ukuran diameter dari leher kaleng yang dapat memperbaiki penampilan dan
kekuatan kaleng untuk ditumpuk, serta menghemat penggunaan logam.
o Ring-pull-tabs
atau full-aperture untuk memudahkan membuka kaleng.
o Disain cetakan
dengan menggunakan komputer dan penggunaan tinta yang tahan terhadap abrasi,
yang memungkinkan badan kaleng dicetak sebelum dibentuk. Tinta kemudian ditarik
dengan logam selama proses DWI untuk menghasilkam disain yang diinginkan pada
produk akhir.
Urutan proses
pembuatan kaleng lembar ganda tipe DWI
1. Kaleng DRD (Draw
and Re-Draw)
Proses DRD pada
prinsipnya sama dengan DWI, dan perbedaannya hanya terletak pada proses ironing,
dimana pada DWI proses ironing bertujuan untuk mengurangi ketebalan
dari kaleng, sedangkan pada proses DWD tidak terdapat proses ironing sehingga
dihasilkan kaleng yang lebih tebal. Bahan pembuat kaleng DRD adalah plat timah
dengan ketebalan 0.2 mm.
Keuntungan dari kaleng dua lembar adalah
mempunyai integritas yang besar, lapisan penutup yang lebih seragam, menghemat
penggunaan logam dan mempunyai bentuk yang lebih menarik bagi konsumen,
dibandingkan dengan sistem solder maupun penyambungan pada kaleng lembar tiga
(TPC). Hal ini disebabkan karena :
a. Lembar ganda
hanya mempunyai satu sambungan double seam sehingga mudah dibentuk dan
dikontrol, dibandingkan TPC dengan sambungan pada sisi badan dan double seam
yang kompleks.
b. Lapisan
pelindung bagian dalam tidak perlu melindungi sambungan yang mudah korosi an
kontak dengan produk sebagaimana pada kaleng TPC.
c. Tidak
diperlukan adanya penyolderan sehingga bahan dapat dihemat.
d. Menyediakan
tempat yang lebih luas karena tidak terdapat sambungan sehingga dapat dicetak
(diprinting) lebih indah dan lebih lengkap misalnya untuk pelabelan pada
produk.
5.
Proses Pengalengan Bahan Pangan
Proses
pengalengan makanan secara garis besar meliputi operasi-operasi sebagai berikut:
a. Pembersihan
dan persiapan bahan bahan baku.
b. Blansing, dengan cara mencelup
di dalam air mendidih atau menggunakan uap panas, yang bertujuan untuk
menginaktifkan enzim, menghilangkan gelembunggelembung udara yang terperangkap
di dalam bahan sehingga memudahkan dalam proses pengisian dan memudahkan dalam
proses sterilisasi.
c. Pengisian dan exhausting.
Kaleng terbuka yang bersih diisi dengan bahan pangan secara otomatis. Untuk
sayuran maka ditambahkan cairan pengisi berupa larutan garam, sedang untuk buah-buahan
ditambahkan cairan pengisi berupa sirup gula. Cairan ditambahkan sampai 1 cm
dari bagian atas kaleng. Setelah pengisian, kaleng dipindahkan ke kotak
pengeluaran gas (exhaust box), sehingga di dalam kaleng akan terbentuk
keadaan yang vakum.
d. Penutupan.
e. Sterilisasi.
6.
Kerusakan Makanan Kaleng
Kerusakan yang
dapat terjadi pada bahan pangan yang dikemas dengan kemasan kaleng terutama
dalah kerusakan kimia, meski demikian kerusakan biologis juga dapat terjadi.
Kerusakan kimia yang paling banyak terjadi pada makanan yang dikemas dengan
kemasan kaleng adalah hydrogen swell . Kerusakan lainnya adalah interaksi
antara bahan pembuat kaleng yaitu Sn dan Fe dengan makanan yang dapat menyebabkan
perubahan yang tidak diinginkan, kerusakan mikrobiologis dan perkaratan
(korosi). Hydrogen Swell Hydrogen swell terjadi karena adanya
tekanan gas hidrogen yang dihasilkan dari reaksi antara asam pada makanan
dengan logam pada kaleng kemasan. Hydrogen swell disebabkan oleh:
- meningkatnya
keasaman bahan pangan
- meningkatnya
suhu penyimpanan
-
ketidaksempurnaan pelapisan bagian dalam dari kaleng
- proses
exhausting yang tidak sempurna
- terdapatnya
komponen terlarut dari sulfur dan pospat.
Interaksi
antara bahan dasar kaleng dengan makanan
Kerusakan
makanan kaleng akibat interaksi antara logam pembuat kaleng
dengan makanan
dapat berupa :
- perubahan
warna dari bagian dalam kaleng
- perubahan
warna pada makanan yang dikemas
- off-flavor
pada makanan yang dikemas
- kekeruhan pada
sirup
- perkaratan
atau terbentuknya lubang pada logam
- kehilangan zat
gizi
Kerusakan
biologis
Kerusakan
biologis pada makanan kaleng dapat disebabkan oleh :
- meningkatnya
resistensi mikroba terhadap panas setelah proses sterilisasi
- rusaknya kaleng setelah proses
sterilisasi sehingga memungkinkan masuknya mikroorganisme ke dalam kaleng.
Kerusakan
kaleng yang memungkinkan masuknya mikroorganisma adalah kerusakan pada bagian
sambungan kaleng atau terjadinya gesekan pada saat proses pengisian (filling).
Mikroorganisme juga dapat masuk pada saat pengisian apabila kaleng yang
digunakan sudah terkontaminasi terutama jika kaleng tersebut dalam keadaan
basah. Kerusakan juga dapat disebabkan karena kaleng kehilangan kondisi vakumnya
sehingga mikroorganisme dapat tumbuh.
Perkaratan (Korosi)
Perkaratan
adalah pembentukan lapisan longgar dari peroksida yang berwarna merah coklat
sebagai hasil proses korosi produk pada permukaan dalam kaleng. Pembentukan
karat memerlukan banyak oksigen, sehingga karat biasanya terjadi pada bagian head
space dari kaleng. Proses korosi jika terus berlangsung dapat menyebabkan terbentuknya
lubang dan kebocoran pada kaleng. Beberapa faktor yang menentukan terbentuknya
karat pada kemasan kaleng adalah :
-
Sifat bahan pangan, terutama pH
-
Adanya faktor-faktor pemicu, misalnya nitrat, belerang dan zat warna
antosianin.
- Banyaknya sisa oksigen dalam bahan
pangan khususnya pada bagian atas kaleng (head space), yang sangat
ditentukan pada saat proses blanching, pengisian dan exhausting.
- Faktor yang berasal dari bahan kemasan,
misalnya berat lapisan timah, jenis dan komposisi lapisan baja dasar,
efektivitas perlakuan permukaan, jenis lapisan dan lain-lain.
- Suhu dan waktu penyimpanan, serta
kebersihan ruang penyimpanan Perkaratan pada kemasan kaleng ini dapat
menyebabkan terjadinya migrasi Sn ke dalam makanan yang dikemas.
7.
Kandungan Sn Dalam Makanan Kaleng
Timah putih (Sn)
baik dalam bentuk alloy maupun murni, sudah sejak lama dikenal sebagai logam
yang aman digunakan untuk menyiapkan dan mengemas makanan. Hal ini disebabkan
karena sifatnya yang tahan korosi dan daya racunnya kecil. Pada saat ini lebih
dari 50% produksi Sn di dunia dipakai untuk melapisi kaleng dalam pembuatan tin
plate yang penggunaan utamanya untuk mengemas makanan.
Logam Sn dan Fe
yang merupakan logam dasar pembuat kemasan termasuk ke dalam golongan logam
berat, sehingga jika produk pangan kalengan terkontaminasi oleh logam ini dan
makanan itu dikonsumsi oleh manusia dapat menimbulkan keracunan. Hal ini
disebabkan toksikan dari logam berat mempunyai kemampuan untuk berfungsi
sebagai kofaktor enzim, akibatnya enzim idak dapat berfungsi sebagaimana
biasanya sehingga reaksi metabolisme terhambat.
Secara alami
biji-bijian, sayuran dan daging mengandung Sn sekitar 1 mg/kg. Timah putih (Sn)
merupakan logam yan tidak beracun (mikronutrien yang esensial untuk tubuh).
Tikus memerlukan Sn 1-2 mg/kg berat badan/hari untuk dapat tumbuh normal. Di
dalam pencernaan hanya sekitar 1% dari Sn yang diabsorbsi oleh tubuh, sisanya
dikeluarkan kembali melalui urin, sedangkan yang tertahan di dalam tubuh akan
didistribusikan ke dalam ginjal, hati dan tulang.
Menurut CODEX,
batas maksimum Sn di dalam makanan adalah 250 mg/kg. Jumlah Sn yang dikonsumsi
melalui makanan tergantung dari pola makan seseorang. Di Inggris secara normal
jumlah Sn yang dikonsumsi adalah 187 g, namun dapat mencapai
jumlah 1.5-3.8 mg untuk orang yang banyak mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi
Sn (Tripton et al., 1966 di dalam Herman, 1990) Dosis racun Sn untuk
manusia adalah 5-7 mg/kg berat badan. Keracunan Sn ditandai dengan mual-mual,
muntah dan pada kadar keracunan yang tinggi dapat menyebabkan kematian, tetapi
jarang ditemukan adanya kasus keracunan Sn yang serius. Konsumsi Sn dalam
jumlah sedikit pada waktu yang panjang juga tida menimbulkan efek keracunan
(Reilly, 1990 di dalam Herman, 1990).
Kontaminasi Sn
ke dalam makanan dapat berasal dari peralatan pengolahan atau dari bahan
pengemas. Untuk memperkecil alrutnya Sn ke dalam bahan makanan mak digunakan
enamel sebagai pelapis kaleng. Bahan-bahan makanan yang mendapat perhatian
khusus terhadap kontaminasi Sn adalah sayuran, buah-buahan (nenas, tomat,
jamur, asparagus dan buah-buahan berwarna putih) yang umumnya dikalengkan dalam
kemasan kaleng tin plate tanpa enamel. Hal ini disebabkan karena kontaminasi
Sn dapat menurunkan penampilan produk yaitu perubahan warna menjadil lebih
gelap.
Kandungan Sn
dalam fraksi padatan dan fraksi cairan dari makanan kalen umumnya berbeda. Fraksi
padatan pada umumnya mengandung Sn lebih tinggi dibandingkan fraksi cairan,
yang kemungkinan disebabkan adanya komponen kimia tertentu dalam fraksi padatan
yang dapat mengikat Sn. Untuk komoditi yang terdiri dari fraksi padatan yang
dicampur dengan fraksi cairan seperti buah dalam kaleng yang diberi sirup gula,
maka penetapan kadar Sn dilakukan setelah kedua fraksi dicampur secara merata.
Tetapi jika komoditi tersebut yang dikonsumsi hanya fraksi padatannya saja
seperi jamur di dalam kaleng, maka penetapan kadar Sn dilakukan hanya terhadap
fraksi padatan saja. Dari pengujian yang
telah dilakukan terhadap beberapa jenis makanan kaleng yang ada di Indonesia,
hingga saat ini kandungan Sn di dalam makanan kaleng masih berada di bawah
ambang batas yang telah ditetapkan.
C. KEMASAN
ALUMINIUM
Aluminium
merupakan logam yang memiliki beberapa keunggulan yaitu lebih ringan daripada
baja, mudah dibentuk, tidak berasa, tidak berbau, tidak beracun, dapat menahan
masuknya gas, mempunyai konduktivitas panas yang baik dan dapat didaur ulang.
Tetapi penggunaan aluminium sebagai bahan kemasan juga mempunyai kelemahan
yaitu kekuatan (rigiditasnya) kurang baik, sukar disolder sehingga sambungannya
tidak rapat sehingga dapat menimbulkan lubang pada kemasan, harganya lebih
mahal dan mudah mengalami perkaratan sehingga harus diberi lapisan tambahan.
Reaksi
aluminium dengan udara akan menghasilkan aluminium oksida yang merupakan
lapisan film yang tahan terhadap korosi dari atmosfir. Penggunaan aluminium
sebagai wadah kemasan, menyebabkan bagian sebelah dalam wadah tidak dapat
kontak dengan oksigen, dan ini menyebabkan terjadinya perkaratan di bagian sebelah
dalam kemasan. Untuk mencegah terjadinya karat, maka di bagian dalam dari wadah
aluminium ini harus diberi lapisan enamel.
Secara
komersial penggunaan aluminium murni tidak menguntungkan, sehingga harus
dicampur dengan logam lainnya untuk mengurangi biaya dan memperbaiki daya
tahannya terhadap korosi. Logam-logam yang biasanya digunakan sebagai campuran
pada pembuatan wadah aluminium adalah tembaga, magnesium, mangan, khromium dan
seng (pada media alkali).
1.
Aluminium foil
Aluminium foil
adalah bahan kemasan berupa lembaran logam aluminum yang padat dan tipis dengan
ketebalan <0.15 mm. Kemasan ini mempunyai tingkat kekerasan dari 0 yaitu
sangat lunak, hingga H-n yang berarti keras. Semakin tinggi bilangan H-, maka
aluminium foil tersebut semakin keras.
Ketebalan dari
aluminium foil menentukan sifat protektifnya. Jika kurang tebal, maka foil
tersebut dapat dilalui oleh gas dan uap. Pada ketebalan 0.0375 mm, maka permeabilitasnya
terhadap uap air = 0, artinya foil tersebut tidak dapat dilalui oleh uap air.
Foil dengan ukuran 0.009 mm biasanya digunakan untuk permen dan susu, sedangkan
foil dengan ukuran 0.05 mm digunakan sebagai tutup botol multitrip.
Sifat-sifat dari
aluminium foil adalah hermetis, fleksibel, tidak tembus cahaya sehingga dapat
digunakan untuk mengemas bahan-bahan yang berlemak dan bahanbahan yang peka
terhadap cahaya seperti margarin dan yoghurt. Aluminium foil banyak digunakan
sebagai bahan pelapis atau laminan.
Kombinasi
aluminium foil dengan bahan kemasan lain dapat menghasilkan jenis kemasan baru
yang disebut dengan retort pouch. Syarat-syarat retort pouch adalah harus
mempunyai daya simpan yang tinggi, teknik penutupan mudah, tidak mudah sobek
bila tertusuk dan tahan terhadap suhu sterilisasi yang tinggi.
Retort pouch mempunyai
keunggulan dibanding kaleng, yaitu :
- luas permukaan besar dan kemasannya
tipis sehingga memungkinkan terjadinya penetrasi panas yang lebih cepat dan
lebih efisien.
- dengan berkurangnya waktu sterilisasi,
maka mutu produk dapat diperbaiki karena nilai gizinya lebih tinggi dan
sifat-sifat sensori seperti rasa, warna dan tekstur dapat dipertahankan.
- dari sisi
konsumen, retort pouch lebih disukai karena praktis dan awet.
- produk yang telah disterilisasi dalam
kemasan retort pouch dapat langsung dikonsumsi tanpa harus dipanaskan.
- pemanasan cukup mudah, yaitu dengan
cara memasukkan kemasan retort pouch ke dalam air mendidih selama 5
menit.
- dapat
dipanaskan dalam microwave oven
- mudah dalam
hal menyobek atau membuka kemasan
- harga lebih murah, karena dapat
menghemat penggunaan garam, energi dan peralatan.
Jumlah
larutan gula/garam yang digunakan sebagai pengisi dapat dikurangi sampai 30%,
energi untuk mensterilkan 25% lebih irit dibanding kaleng dan peralatan dalam retort
pouch line berlangsung dengan kapasitas maksimum. Untuk 60
pouch/menit/mesin diperlukan hanya 3 jenis mesin yaitu mesin pembentuk, pengisi
dan penutup. Contoh kemasan retort pouch adalah kemasan yang terdiri
dari poliester-adhesifaluminium foil-adhesif-polipropilen, dengan susunan
sebagai berikut :
- film polister
dengan tebal 0.5 mil di bagian luar
- kertas
aluminium dengan tebal 0.0035 inchi di bagian tengah
- bagian dalam
dilaminasi dengan polipropilen
Poliester
dan polipropilen dapat bekerja sebagai adhesif bagi aluminium foil dan dapat
ditutup secara kuat dengan pemanasan. Fungsi poliester adalah untuk memberikan
ketahanan dan kekuatan pada kemasan. Poliester juga bersifat tahan tekanan dan
dapat dicetak, sehingga pencetakan label kemasan dapat dilakukan di bagian
poliester ini. Aluminium foil memberikan perlindungan bahan sehingga tahan disimpan
tanpa pembekuan dan pendinginan, karena permeabilitasnya yang rendah terhadap
sinar, uap air, O2 dan mikroba. Polipropilen bersifat inert, dapat direkatkan secara
kuat dengan panas (heat seal) dan mempunyai daya simpan (shelf life)
sama dengan kaleng.
Bentuk
lain dari kantung aluminium foil adalah bag in box system, yang terdiri dari
3 (tiga) lapisan bahan kemasan yaitu polietilen-saran- polietilen. Kemasan ini digunakan
untuk susu, wine, minyak goreng dan kacang. Susu homogenisasi yang dikemas
secara aseptis dengan kemasan bag in box system, mempunyai masa simpan 9
bulan pada susu kamar.
2.
Penggunaan Aluminium untuk Kemasan Bahan Pangan
Aluminium dapat digunakan untuk mengemas
produk buah-buahan dan sayuran, produk daging, ikan dan kernag-kerangan, produk
susu dan minuman. Penggunaan kemasan aluminium untuk bahan-bahan ini harus
memperhatikan beberapa kondisi sebagai berikut :
a.
Produk Buah-buahan dan Sayuran
Aluminium yang
digunakan untuk mengemasan produk buah-buah harus dilapisi dengan enamel untuk
mencegah terjadinya akumulasi gas hidrogen yang dapat menyebabkan terbentuknya
gelembung gas dan karat. Penyimpangan warna pada saus apel yang dikemas dengan
aluminium, dapat dicegah dengan menambahkan asam askorbat .
b. Produk daging
Pengemasan
daging dengan wadah aluminium tidak menyebabkan terjadiny perubahan warna
sebagaimana yang terjadi pada logam lain. Produk yang mengandung asam amino
dengan sulfur seperti daging dan ikan dapat bereaksi dengan besi dan membentuk
noda hitam. Penambahan aluminium yang dipatri pada kaleng tin plate dapat
mencegah pembentukan noda karat. Pada produk daging yang berkadar garam tinggi
dan mengandung bumbu yang mudah berkarat, maka penambahan gelatin dapat
mengurangi sernagan karat pada logam.
c.
Ikan dan Kerang-kerangan
Pengemasan ikan
sarden dalam minyak atau saus tomat dan saus mustard degan kemasan aluminium
yang berlapis enamel, maka pH nya tidak boleh lebih dari 3.0, karena jika lebih
besar enamel tidak dapat melindungi produk. Pengemasan lobster dengan kaleng
aluminium tidak memerlukan kertas perkamen yang biasanya digunakan untuk
mencegah perubahan warna pada kaleng tinplate.
d.
Produk-produk susu
Kemasan
aluminium untuk produk susu memerlukan lapisan pelindung, terutama pada susu
kental yang tidak manis. Penggunaan aluminium untuk produk-produk susu seperti
margarin dan mentega, berperan untuk memberikan sifat opaq sehingga menjadi
sekat lintasan bagi cahaya dan O2.
e.
Minuman
Pengemasan
minuman dengan wadah aluminium harus diberi pelapis, yaitu epoksivinil atau
epoksi jernih untuk bir dan epoksivinil atau vinil organosol untuk minuman
ringan atau minuman berkarbonasi. Pengemasan teh dengan aluminium yang tidak
diberi lapis dapat menyebabkan terjadinya perubahan warna dan flavor.
D. KEMASAN
AEROSOL
Kemasan
aerosol banyak digunakan untuk mengemas produk-produk non pangan seperti
kosmetika (parfum), pembersih kaca, pengharum ruangan, cat semprot, pemadam
kebakaran dan pestisida. Penggunaan kemasan aerosol untuk bahan pangan adalah
untuk whipped cream yaitu krim sebanyak 90% erdiri dari susu, sirup jagung, sukrosa
dan minyak nabati yang diberi cita rasa dan bahan penstabil.
Kemasan
aerosol terdiri dari 3 (tiga) bagian yaitu : produk cair, propelen pendorong
cairan dan bagian gas dengan pengaruh tekanan. Bagian cair menempati ¾ bagian
dari volume wadah, bagian gas berada di bawah. Pipa saluran (dip tube) dipasang
hingga masuk ke bagian cairan mulai dari katup. Klep dibuka dengan menekan knop
sehingga gas menekan ke seluruh bagian dalam wadah kemudian cairan bergerak
melalui pipa saluran dan keluar melalui katup. Sebagian cairan propelan menguap
dan menggantikan posisi produk cair di bagian dalam aerosol sehingga menambah
gas. Volume gas propelan dapat mencapai 250 kali dari volume cairnya, sehingga
hanya sebagian kecil cairan yang tertinggal, dan hampir seluruh ruang diisi
dengan gas, tetapi tekanan tetap sama, selama di dalam wadah aerosol masih
terdapat propelan dalam bentuk cair.
Berdasarkan
bahan kemasannya maka kemasan aerosol dibedakan atas: 1) kemasan aerosol logam,
2) kemasan aerosol gelas dan 3) kemasan aerosol plastik. Kemasan aerosol logam
terbuat dari logam aluminum, plat timah atau nir karat (stainless steel),
dan paling banyak digunakan dibanding kemasan aerosol lain.
Kemasan
aerosol gelas mempunyai sifat inert terhadap bahan kimia dan sesuai untuk produk-produk
yang korosif. Kemasan aerosol plastik terbuat dari asetal, nilon atau propilena,
dan biasanya digunakan untuk pembersih alat rumah tangga. Jenis propelan yang
digunakan dalam kemasan aersol adalah fluorokarbon, hidrokarbon (butana,
propana, isobutana) dan gas kompresi (campuran N2O dan CO2 dengan perbandingan
15 : 85). Kerja propelan dipengaruhi oleh suhu, sehingga pada daerah yang
mempunyai musim dingin beberapa aerosol tidak dapat bekerja pada suhu udara
luar. Penggunaan kemasan aersol saat ini banyak mendapat tantangan karena
adanya propelan yang bersifat merusak ozon.
E. DRUM DAN WADAH
LAIN
Drum
logam untuk bahan pangan umumnya terbuat dari baja atau aluminium Drum baja
banyak digunakan untuk minyak goreng. Bentuk drum yang lain yaitu jemblung
dibuat dari kaleng dengan bahan dasar seng, biasanya digunakan untuk kerupuk
atau makanan jajanan kering lainnya. Drum logam untuk minyak goreng, biasanya
dipakai secara berulang sehingga jarang ditemui drum yang masih baru. Pada
dinding drum biasanya dibentuk gelanggelang (simpay) dengan menekan keluar
dinding sisi, agar drum mudah digelindingkan. Bagian penutup mempunyai dua
lubang, yaitu lubang kecil untuk lubang angin, dan lubang besar untuk
mengeluarkan produk.
BAB
III
KESIMPULAN
Pengemas logam yang sering digunakan adalah kaleng plat timah dan baja
bebas timah , kemasan aluminium (khususnya aluminum foil sering
digunakan untuk pembungkus daging , sayur, susu, ikan) kemasan aerosol ( khususnya kemasan aerosol logam, digunakan untuk
wadah pengharum ruangan) , dan drum baja
(digunakan untuk pengemas minyak goreng.)
DAFTAR
BACAAN
1. Herman, A.S.,
1990. Kandungan Timah Putih (Sn) Dalam Makanan kaleng. Di dalam : S.Fardiaz dan
D.Fardiaz (ed), Risalah Seminar Pengemasan dan Transportasi dalam Menunjang
Pengembangan Industri, Distribusi dalam Negeri dan Ekspor Pangan. Jakarta.
2. Syarief, R.,
S.Santausa, St.Ismayana B. 1989. Teknologi Pengemasan Pangan. Laboratorium Rekayasa
Proses Pangan, PAU Pangan dan Gizi, IPB.
3. Winarno,
F.G., 1995 Pangan, Gizi, Teknologi dan Konsumen. PT.Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta.
Comments
Post a Comment
terima kasih atas kritik dan saran menbangunnya