Popular Posts

MASSA JENIS ATAU DENSITAS

Pasar Persaingan Sempurna

Alat Pengecil Ukuran

PENGEMASAN - LAPORAN PRAKTIKUM KALENG

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Dalam industri pangan pengemasan merupakan salah satu cara untuk membantu melindungi bahan pangan dari kerusakan, melindungi bahan yang ada di dalamnya dari pencemaran serta gangguan fisik seperti gesekan, benturan dan getaran mikrobiologis selama pengangkutan, penyimpanan dan pemasaran.
Wadah logam dalam bentuk kotak atau cangkir emas digunakan pada zaman kuno sebagai lambang prestise. Teknik pengalengan makanan sebagai upaya pengawetan bahan pangan pertama sekali dikembangkan pada tahun 1809 yaitu pada zaman pemerintahan Napoleon Bonaparte yaitu dari hasil penemuan Nicholas Appert. Aspek legislasi pengalengan makanan ditetapkan tahun 1810 yang dikenal dengan ”l’art de conserver”. Tahun 1810 Peter Duran dari Ingris menciptakan kaleng.
Tahun 1817 William Underwood (imigran asal Inggris) mendirikan industri pengalengan makanan yang pertama di Amerika Serikat. Kapten Edward Perry yang melakukan ekspedisi ke kutub utara pada tahun 1819, 1824 dan 1826 telah menggunakan makanan kaleng sebagai logistik mereka. Alumunium foil (alufo) diproduksi secara komersial pertama kali pada tahun 1910. Kaleng aluminium untuk kemasan bir digunakan pertama sekali tahun 1965.
Awalnya pembuatan kaleng dilakukan secara manual yaitu hanya dihasilkan 5-6 kaleng per jam. Akhir tahun 1900 ditemukan cara pembuatan kaleng termasuk cara pengisian dan penutupannya yang lebih maju dan bersih. Kaleng alumunium awalnya diperkenalkan sebagai wadah pelumas. Tahun 1866 ditemukan alat pembuka kaleng yang berupa kunci pemutar untuk menggantikan paku atau pahat.
Tahun 1875 ditemukan alat pembuka kaleng dengan prinsip ungkit. Tahun 1889 ditemukan kaleng-kaleng aerosol, tetapi saat ini kaleng aerosol banyak ditentang karena dapat merusak lapisan ozon.
Bedasarkan pemaparan diatas tersirat bahwa perlunya pengetahuan tentang pengemas logam untuk mengemas bahan pangan. Pada kesempatan kali ini kami akan mencoba memaparkannya dalam bentuk laporan hasil praktikum tentang sambungan ganda pada kaleng.


1.2  Rumusan Masalah
1.2.1   Sudahkah sambungan ganda pada kaleng sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh perusahaan pembuat kaleng (overlap minimum 45%)?
1.2.2   Bagaimana karakteristik logam?
1.3  Tujuan
1.3.1   Untuk mengetahui sambungan ganda pada kaleng sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh perusahaan pembuat kaleng (overlap minimum 45%).
1.3.2   Untuk mengetahui karakteristik logam.
1.4  Manfaat
1.4.1    Dapat mengetahui sambungan ganda pada kaleng sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh perusahaan pembuat kaleng (overlap minimum 45%).
1.4.2   Dapat mengetahui karakteristik logam.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kemasan Kertas
Kemasan logam merupakan konduktor (peghantar panas yang baik). Kemasan logam memiliki kelebihan tersendiri jika dibandingkan dengan kemasan nonlogam, antara lain dapat ditempa dan dibengkokkan dalam keadaan padat jika dipanaskan dengan suhu tinggi, mempunyai kilap logam, tidak tembus pandang, dan bentuknya padat.
Kemasan logam yang paling dikenal adalah dalam bentuk wadah kaleng. Menurut cara dan tujuannya terdapat dua jenis kaleng. Jenis yang pertama yaitu kaleng untuk pengemasan steril. Kaleng ini ditutup sampai kedap udara dengan alat khusus sehingga diperoleh sambungan ganda (double seam). contohnya tin plate, tin free steel dan alumunium. Jenis yang kedua yaitu kaleng tidak untuk proses steril, kaleng ini biasanya tidak ditutup dengan alat khusus sehingga tidak ada sambungan double seam pada batas badan dan tutup kaleng.
Beberapa keuntungan dari wadah kaleng yaitu mempunyai sifat sebagai pelindung atau barrier yang baik khususnya terhadap gas, daya toksisitas yang rendah, tahan perubahan suhu ekstrim, memiliki permukaan yang ideal untuk dekorasi dan labeling.
Pada mulanya kaleng terbuat dari plat timah dan berkembang berbagai jenis kaleng yang berbeda dengan plat timah standar, seperti kaleng baja bebas timah, kaleng tiga lapis, dan kaleng lapis ganda. Pemilihan jenis atau tipe kaleng perlu memperhatikan sifat korosif dan keasaman makanan. Untuk mencegah korosi dan kontak langsung antara bahan pangan dengan wadah logam dilakukan pelapisan dengan lapisan enamel. Enamel ini merupakan bahan pelapis organic golongan senyawa resin. Tipe keleng berdasarkan komposisi bahan kimianya antara lain Tipe L, Tipe MR, Tipe MC, Tipe N, dan lain-lain.
2.2 Karakteristik Logam
Karakteristik bahan logam dibandingkan bahan non logam dapat dilihat pada Tabel 2.1.  Keuntungan wadah kaleng untuk makanan dan minuman :
ü  Mempunyai kekuatan mekanik yang tinggi.
ü  Barrier yang baik terhadap gas, uap air, jasad renik, debu dan kotoran sehingga cocok untuk kemasan hermetis.
ü  Toksisitasnya relatif rendah meskipun ada kemungkinan migrasi unsur logam ke bahan yang dikemas.
ü  Tahan terhadap perubahan-perubahan atau keadaan suhu yang ekstrim.
ü  Mempunyai permukaan yang ideal untuk dekorasi dan pelabelan.

Tabel 2.1. Karakteristik logam dibandingkan bahan non logam
Logam
Non Logam
a. Penghantar (konduktor) panas dan
listrik yang baik
Konduktor yang buruk, isolator yang
baik
b. Dapat ditempa atau dibengkokkan
dalam keadaan padat
Rapuh dan tidak dapat ditempa

c. Mempunyai kilap logam
Kilap non logam
d. Tidak tembus pandang
Beberapa jenis bersifat tembus
pandang (translusid)
e. Densitas tinggi
Densitas rendah
f. Berbentuk padat (kecuali merkuri)
Berbentuk padat, cair atau gas
Sumber : Syarief et al., 1989.
Bentuk kemasan dari bahan logam yang digunakan untuk bahan pangan yaitu :
  1. bentuk kaleng tinplate
  2. kaleng alumunium
  3. bentuk alumunium foil
Kaleng tinplate banyak digunakan dalam industri makanan dan komponen utama untuk tutup botol atau jars. Kaleng alumunium banyak digunakan dalam industri minuman. Alumunium foil banyak digunakan sebagai bagian dari kemasan bentuk kantong bersama-sama atau dilaminasi dengan berbagai jenis plastik, dan banyak digunakan oleh industri makanan ringan, susu bubuk dan sebagainya.
2.3 Kaleng Plat Timah dan Baja Bebas Timah
Plat timah (tin plate) adalah bahan yang digunakan untuk membuat kemasan kaleng, terdiri dari lembaran baja dengan pelapis timah. Plat timah ini berupa lembaran atau gulungan baja berkarbon rendah dengan ketebalan 0.15-0.5 mm dan kandungan timah putih berkisar antara 1.0-1.25% dari berat kaleng. Digunakan untuk produk yang mengalami sterilisasi.

Wadah kaleng pada awalnya terbuat dari plat timah (tin plate) yang terdiri dari : lembaran dasar baja dilapisi timah putih (Sn) dengan cara pencelupan dalam timah cair panas (hot dipping) atau dengan elektrolisa.
Di dalam perkembangannya ada beberapa jenis kaleng plat timah yaitu :
ü      kaleng baja bebas timah (tin-free steel)
ü      kaleng 3 lapis (three pieces cans)
ü      kaleng lapis ganda (two pieces cans)
Kemasan plat timah mempunyai daya tahan terhadap karat yang rendah, tetapi daya tahannya terhadap reaksi-reaksi dengan bahan pangan yang dikemasnya lebih lambat dibanding baja. Kaleng dengan lapisan timah yang tebal digunakan untuk mengalengkan bahan makanan yang mempunyai daya korosif lebih tinggi.
Dalam memilih kemasan kaleng untuk pengemasan bahan pangan, maka perlu dipertimbangkan hal-hal sebagai berikut :
ü    sifat korosif kaleng
ü    sifat keasaman makanan
ü  kekuatan kaleng (daya tahan terhadap tekanan dalam retort atau keadaan vakum)
ü  Ukuran kaleng
2.4 Kemasan Aluminium
Aluminium merupakan logam yang memiliki beberapa keunggulan yaitu lebih ringan daripada baja, mudah dibentuk, tidak berasa, tidak berbau, tidak beracun, dapat menahan masuknya gas, mempunyai konduktivitas panas yang baik dan dapat didaur ulang. Tetapi penggunaan aluminium sebagai bahan kemasan juga mempunyai kelemahan yaitu kekuatan (rigiditasnya) kurang baik, sukar disolder sehingga sambungannya tidak rapat sehingga dapat menimbulkan lubang pada kemasan, harganya lebih mahal dan mudah mengalami perkaratan sehingga harus diberi lapisan tambahan.
Aluminium dapat digunakan untuk mengemas produk buah-buahan dan sayuran, produk daging, ikan dan kernag-kerangan, produk susu dan minuman. Reaksi aluminium dengan udara akan menghasilkan aluminium oksida yang merupakan lapisan film yang tahan terhadap korosi dari atmosfir. Penggunaan aluminium sebagai wadah kemasan, menyebabkan bagian sebelah dalam wadah tidak.

dapat kontak dengan oksigen, dan ini menyebabkan terjadinya perkaratan di bagian sebelah dalam kemasan. Untuk mencegah terjadinya karat, maka di bagian dalam dari wadah aluminium ini harus diberi lapisan enamel.
Secara komersial penggunaan aluminium murni tidak menguntungkan, sehingga harus dicampur dengan logam lainnya untuk mengurangi biaya dan memperbaiki daya tahannya terhadap korosi. Logam-logam yang biasanya digunakan sebagai campuran pada pembuatan wadah aluminium adalah tembaga, magnesium, mangan, khromium dan seng (pada media alkali).
Contoh dari kemasan aluminium adalah aluminium foil, adalah bahan kemasan berupa lembaran logam aluminum yang padat dan tipis dengan ketebalan <0.15 mm. Kemasan ini mempunyai tingkat kekerasan dari 0 yaitu sangat lunak, hingga H-n yang berarti keras. Semakin tinggi bilangan H-, maka aluminium foil tersebut semakin keras.
2.5 Kemasan Aerosol
Kemasan aerosol banyak digunakan untuk mengemas produk-produk non pangan seperti kosmetika (parfum), pembersih kaca, pengharum ruangan, cat semprot, pemadam kebakaran dan pestisida. Penggunaan kemasan aerosol untuk bahan pangan adalah untuk whipped cream yaitu krim sebanyak 90% erdiri dari susu, sirup jagung, sukrosa dan minyak nabati yang diberi cita rasa dan bahan penstabil.
Kemasan aerosol terdiri dari 3 (tiga) bagian yaitu : produk cair, propelen pendorong cairan dan bagian gas dengan pengaruh tekanan. Berdasarkan bahan kemasannya maka kemasan aerosol dibedakan atas: 1)kemasan aerosol logam, 2)kemasan aerosol gelas dan 3) kemasan aerosol plastik. Kemasan aerosol logam terbuat dari logam aluminum, plat timah atau nir karat (stainless steel), dan paling banyak digunakan dibanding kemasan aerosol lain. Kemasan aerosol gelas mempunyai sifat inert terhadap bahan kimia dan sesuai untuk produk-produk yang korosif. Kemasan aerosol plastik terbuat dari asetal, nilon atau propilena, dan biasanya digunakan untuk pembersih alat rumah tangga.

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Bahan
  • Kaleng
3.2 Alat
  • Jangka sorong
  • Gunting logam
  • Micrometer skrup
3.3 Cara Kerja
  1. Potong kaleng pada bagian sambungan antara tutup dan badan kaleng.
  2. Ukur bagian-bagian sambungan seperti tampak pada gambar dengan jangka sorong (BH, CH, EPT, L, dan BPT).
  3. Untuk tebal tutup (EPT) dan tebal badann kaleng (BPT) diukur dengan micrometer skrup.
  4. Hitung nilai overlap dengan rumus :
BH + CH + EPT - L
% overlap =                                             X 100%
                                    L – (2 EPT + BPT)

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1    Hasil Percobaan
Keterangan
Nilai
1.    EPT

2.    BPT

3.    BH

4.    CH

5.    L


4.2 Pembahasan
Pada praktikum kali ini terdapat penggunaan kertas stensil atau kertas buram, tujuan penggunaan kertas stensil ini yaitu sebagai indikator untuk melihat tembusnya minyak pada kertas agar terlihat jelas. Jika kertas stensil ini tidak digunakan, minyak akan langsung tembus pada gelas kaca dan kemungkinan hal ini tidak akan terlihat jelas. Oleh karena itulah, digunakan kertas stensil agar tembusnya minyak pada kertas terlihat jelas.
Selain menggunakan kertas stensil, pada praktikum kali ini juga menggunakan pasir halus.Tujuan penggunaan pasir halus ini yaitu sebagai penghambat agar minyak tidak langsung menyerap pada kertas, tetapi minyak tersebut harus melewati butiran-butiran pasir kuarsa terlebih dahulu sehingga dapat dihitung waktu penetrasinya.
Penggunaan pasir sebagai media untuk menghambat penyerapan minyak di kertas minyak dan roti sehingga waktu penyerapannya dapat ditentukan. Semakin rapat pasirnya maka semakin lambat penyerapan yang terjadi. Pengamatan dilakukan sebanyak 2 kali perulangan tiap-tiap bahan yang digunakan.
 Selanjutnta bahan pengemas yang diuji yaitu kertas perkamen, kertas minyak,dan kertas glasin .
Berdasarkan tabel pengamatan di atas, kertas glasin diperoleh hasil lima kali perulangan yang sudah dirata-ratakan oleh tiap-tiap kelompok yang masing-masing memerlukan waktu  3,30 menit, 2,01 menit, 2,13 menit, 9,31 menit, 1,43 menit, dengan nilai waktu rata-rata 3,636 menit.Sedangkan kertas minyak memerlukan waktu 3,29 menit, 11,19 menit, 4,26 menit, 7,92 menit, 6,02 menit, dengan nilai rata-rata 6,536 menit.Kemudian pada kertas perkamen memiliki waktu yang paling lama dibandingkan kertas minyak dan glasin dengan memerlukan waktu 60 > untuk lima kali perulangan dengan waktu rata-rata 60 > menit.
Sehingga kita dapat mengurutkan waktu penetrasi ketahanan kertas terhadap minyak dari yang paling cepat sampai yang paling lama yaitu kertas glasin > kertas minyak > kertas perkamen .
Dari data diatas didapat bahwa kertas perkamen paling lama menyerap minyak sedangkan kertas glasin memiliki ketahanan terhadap minyak tidak terlalu tinggi paling cepat. Menurut literatur yang didapat, kertas perkamen memiliki karakteristik lebih keras dan tebal daripada kertas minyak dan glasin sehingga penyerapannya pun lebih lambat dibandingkan kertas minyak dan glasin. Sedangkan pada kertas minyak memiliki karakrteristik yang lebih tipis dan pori-porinya lebih kecil sehingga menyebabkan minyak mudah menyerap.
Selain itu, mungkin juga dalam praktikum ini terjadi kesalahan pada saat menuangkan pasir ke dalam wadah bahan masing-masing kertas, misalnya terlalu padat sehingga dapat menghambat tembusnya minyak pada kertas perkamen khususnya yang memiliki waktu penetrasi paling lama. Kemudian mutu dari kertas pengemas itu sendiri bisa menyebabkan mudahnya penetrasi minyak pada kertas glasin dan minyak dengan cepat, mengingat karakteristik glasin sendiri menurut literatur memiliki ketahan terhadap minyak dan lemak yang tinggi.

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
1.      Urutan penetrasi kertas terhadap minyak sesuai dengan hasil pengamatan dari yang cepat hingga paling lama yaitu kertas glasin > kertas minyak > kertas perkamen.
2.      Daya penetrasi minyak dapat dipengaruhi oleh karakteristik kertas bahan, kertas perkamen memiliki karakteristik lebih keras dan tebal dari kertas minyak dan kertas glasin, sehingga daya penetrasinya pun lebih lambat dibandingkan kertas minyak dan glasin yang memiliki karakrteristik yang lebih tipis dan pori-porinya lebih kecil sehingga dapat menyebabkan minyak lebih cepat menyerap.
5.2 Saran
Masih terdapat banyak kekurangan dalam pembuatan laporan praktikum ini, dokumentasi pada saat praktikum dilakukan bisa lebih diperbanyak  untuk menambah reliabelitas praktikum.

DAFTAR PUSTAKA
  1. Herman, A.S., 1990. Kandungan Timah Putih (Sn) Dalam Makanan kaleng. Di dalam : S.Fardiaz dan D.Fardiaz (ed), Risalah Seminar Pengemasan dan Transportasi dalam Menunjang Pengembangan Industri, Distribusi dalam Negeri dan Ekspor Pangan. Jakarta.
  2. Syarief, R., S.Santausa, St.Ismayana B. 1989. Teknologi Pengemasan Pangan. Laboratorium Rekayasa Proses Pangan, PAU Pangan dan Gizi, IPB.
  3. Winarno, F.G., 1995 Pangan, Gizi, Teknologi dan Konsumen. PT.Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.























Comments